Setelah 2 bulan 'Abdan menikmati hari-harinya bersama Abi, giliran si sulung merasa "iri". Dia bilang, " Enak 'Abdan... Bisa ikut Abi kemana-mana..." Lho kok begitu, jadi ia merasa kalau ikut Abi itu jauh lebih enak ketimbang sekolah...?? Wah... berarti ada yang salah ini.
Memang sih, sejak merasakan bahwa biaya sekolah semakin meninggi dan kami mengalami kesulitan untuk membayarnya, maka kamipun mulai banyak belajar tentang homeschooling. Seringkali kami menjadikan homeschooling sebagai topik pembicaraan anatara aku dan suami. Saat itu Fathin duduk di kelas 3 SD. Rasa kurang nyaman dengan kondisi pembelajaran di sekolah memang sudah kami rasakan. Aku sebagai ibu seringkali merasa bersalah ketika harus memaksa anakku mengikuti kemauan sekolah yang aku sendiri sebenarnya tidak nyaman, sebagai contoh adalah ketika Fathin harus mengerjakan pe-er, ia paling sulit...dan tidak ada gairah, aku harus memaksa-maksa kalau tidak ingin ia pergi ke sekolah sambil membawa kembali pe-er yang belum dikerjakan. Ya dipaksa-paksa, soalnya waktuku tidak banyak (aku juga mengajar di TK yang satu yayasan dengan sekolah Fathin). Malam hari selepas isya' kami sekeluarga sudah pada ngantuk, jadi mengerjakan pe-er seringnya di pagi hari, saat sedang repot-repotnya. Kalau sedang tidak ada pe-er adalagi yang bikin ribut... tidak segera menata buku yang harus dibawa... tidak segera mandi... seragam, sepatu, dasi, suka nyelip ga tau kemana... Akhirnya, yang sering terjadi adalah Fathin datang di sekolah terlambat... Padahal rumah kami bersebelahan dengan sekolah...Wow luar biasa... Berapa kali saja aku sebagai orang tua dipanggil gara-gara Fathin telat... Wuih... ya malu lah...meski yang memanggil teman-teman sendiri, tapi saking keseringan jadi nggak nyaman... Seringkali anaknya aku ajak ngobrol, tapi tetap saja, kalau sudah ada yang dikerjakan (biasanya bermain-main atau menggambar) tidak bisa beranjak dari tempatnya. Begitupun kalau pulang, selalu akhir, entah karena tugas nulis belum kelar atau karena menemukan permainan asyik di halaman sekolah. Huuuhhh... Selalu jengkel dibuatnya. Akhirnya aku pakai jurus instan, ngancam-ngancam, kalau pagi hari, sambil panik persiapan karena jam 07.00 harus sudah siap breafing pagi di tempatku mengajar, aku teriak-teriak... " Ayo segera mandi, menata buku dan berangkat... Pokoknya kalau Ummi sudah berangkat dan selesai breafing pagi kamu belum kelihatan di sekolah, tak laporkan ke gurumu bahwa kamu sudah nggak pengen sekolah..." Kalau sudah digitukan, pasti deh dia akan teriak-teriak juga " Gak... gak mau...gak mau...," " Iya...makanya segera berangkat, nak." Kalau dia sudah panik begitu, barulah suaraku menurun... Yah, begitulah hari-hari Fathin.
Rasa bersalah selalu menggelayuti pikiranku, akankah seperti ini yang selalu terjadi, sepertinya Fathin memang terpaksa untuk berangkat sekolah. Galau akau dibuatnya, belum lagi kalau ada laporan dari gurunya, " Mas Fathin kalau waktunya menulis selalu ramai, mengganggu teman-temannya..." atau " Mas Fathin menulisnya lama...karena sambil ngobrol dan menggambar..." Begitulah... Laporan buruk selalu kuterima tentang anakku....
Sejak saat itu aku semakin banyak mempelajari tentang homeschooling. Kecenderungan terhadap model pendidikan yang telah lama kami pendam itu kini semakin menwarnai pola pikir. Aku seringkali flash back ke masa lalu, dimana aku selalu merasa terbebani atas apa yang menjadi kewajibanku sebagai seorang pelajar. Belajar banyak hal berarti harus bisa banyak hal... kalau diajarkan berarti harus bisa apa yang diajarkan, karena nilai jekel adalah aib. Aku sempat sangat terbebani kalau tidak bisa tuntas menguasai semua mata pelajaran. Meski selama sekolah prestasi akademikku lumayan bagus tapi beban-beban yang kurasakan juga cukup berat. Itu kurasakan sangat menyiksa, dan lebih kecewa lagi ketika akhirnya kudapati hari ini diriku seperti harus memulai dari nol untuk mempelajari segala hal yang kubutuhkan. Prestasi akademik di masa lalu tidak pernah bisa membantu. Rumus fisika yang dulu kuhafal sekarang sudah tidak kubutuhkan, rumus kimia, hafalan geografi dan yang lainnya harus kuhafal ulang kalau aku mau mendalaminya. Apalagi aku tidak kuliah, hampir tidak ada yang berguna apa-apa yang aku pelajari saat aku masih sekolah... Jadi apa gunanya menghabiskan waktu sekian lama, menghabiskan uang sekian juta, kalau akhirnya tidak mendapatkan apa-apa? Padahal dulu aku berprestasi...Lalu bagaimana dengan anakku...yang tidak pernah mendapatkan penghargaan berupa prestasi sebagai satu-satunya penghargaan tertinggi di sebuah institusi bernama sekolah itu...? Apa yang akan didapatkan anakku disana? Apa yang akan dibawanya sebagai bekal kehidupannya di masa mendatang? Ohhh...
Semua ketidaknyamanan itu berkecamuk, menghasilkan sebuah kekuatan untuk segera menarik anakku dari bangku sekolah. Awalnya kami menggunakan alasan dana. Kanyataannya kami memang keberatan dengan biaya yang harus kami keluarkan dengan jumlah anak yang lumayan banyak. Sebenarnya kami bisa saja meyakinkan diri untuk masalah ini, jika kita meniatkan semuanya demi kebaikan, dana pasti bisa dicari, Allah pasti akan memberikan jalan, tidak ada yang tidak mungkin. Tetapi sayangnya kami telah merasa sayng (eman:jawa) untuk sekian banyak dana yang harus dikeluarkan. Padahal dengan dana yang lebih sedikit kita bisa mengantarkan anak-anak menuju masa depan yang lebih terarah. Dana yang ada bisa dialokasikan kepada hal-hal yang penting untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Bukan dialokasikan kepada hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Ya begitulah. Semester 2 kelas 3 SD Fathin resmi mundur dari sekolah. Ada beberapa tawaran beasiswa setelah Fathin keluar, dengan tujuan agar Fathin bisa kembali ke sekolah. Tapi ternyata setelah kami evaluasi tujuan utama menarik Fathin dari sekolah memang bukan semata-mata karena dana. Masalah dana ada, tetapi tidak sekuat permasalahan lain yang melatarbelakanginya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para donatur yang siap membiayai anak-anak untuk bisa kembali ke sekolah. Terimakasih banyak atas kepeduliannya, bukan maksud kami merendahkan maksud baik saudara-sudaraku... Ini hanyalah upaya kami untuk memberikan bekal yang terbaik kepada anak-anak kami, menurut kami, orang tuanya, yang bertanggung jawab atas mereka. Terimakasih kepada saudara-saudara kami yang telah mendukung keputusan ini... semoga Allah SWT senantiasa menuntun langkah-langkah kita menempuh ikhtiyar-ikhtiyar yang diridhoi-NYA, amin.
Kamis, 14 Juli 2011
Sabtu, 18 Juni 2011
Mengawali Portofolio
Bismillaahirrohmanirrohiim
Anandaku berlima, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri bundamu ini, saksikanlah, bahwa malam ini bunda memulai. Sebuah tindakan yang harusnya telah bunda pelihara semenjak setahun yang lalu, ketika kita memulai langkah-langkah kita ini.
Mari sejenak kita membuka cerita...
Kami adalah sebuah keluarga dengan 5 orang anak, masing-masing Aslim Fathin Abdul Hadi Zain (12 Juni 2001), 'Abdan Zaib Ali Zain (17 Agustus 2003), Fahri Daud Abdurrohim Zain (7 Maret 2007), Nayla Taqiyya Adiibah Zain (26 Maret 2009), dan Yumna Taqiyya Aqeelah Zain (10 Januari 2011).Kami tinggal di sebuah kota kecil di Kab Kediri Jawa Timur, kota Pare, yang dikenal masyarakat Indonesia dengan Kampung Inggrisnya. Kami adalah keluarga yang menerapkan model pendidikan Home Education untuk putra putri kami, sebuah model pendidikan berbasis keluarga.
01 Februari 2010 kami mengawali langkah pendidikan sekolah rumah untuk ketiga anak kami, Fathin, 'Abdan dan Fahri. Saat itu saya masih aktif mengajar di sebuah PAUD favorit di kota Pare yang saya tekuni sejak tahun 2006. Keputusan untuk menyekolah rumahkan anak-anak dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya faktor biaya, mulai terbukanya cakrawala pandang kami sebagai orang tua terhadap model pendidikan, dan semakin memprihatinkannya sistem pendidikan di negeri tercinta ini.
Keputusan ini dipicu oleh kondisi putra kedua kami 'Abdan, yang mulai enggan masuk sekolah. Pada tahun ajaran 2009/2010 usia 'Abdan yang waktu itu duduk di bangku TK-B belum genap 7 tahun. Atas berbagai pertimbangan, terutama berkenaan dengan kematangan anak, kami tidak memasukkannya ke SD melainkan membujuknya untuk bisa belajar di TK-B. Beberapa temannya pun masih tinggal di TK-B karena faktor usia juga. 'Abdan agak 'mogok', dan kami terus membujuknya. Saya berusaha membuatnya gembira untuk bisa kembali ke sekolah yang juga disana saya mengajar. Kami bertahan pada kondisi ini meski harus selalu menghindari cara-cara paksaan untuk membuatnya bisa berangkat.
Menjelang bulan Desember 2009 'Abdan kembali mogok dan benar-benar mogok. Kami tak punya cara lain selain membiarkannya bersantai di rumah, ikut Abi kerja atau pergi ke rumah nenek. 'Abdan begitu menikmati dunia barunya. Saya merasa berdosa, tapi ya sudahlah, ini salah kami juga. Kenapa memasukkannya ke PAUD terlalu dini yang akibatnya bisa membuat tekuranginya hak dia untuk menghabiskan dunia bermainnya jika kami teruskan ia ke SD, ya sudahlah gapapa ga sekolah...
Mulai saat itulah kecenderungan pada model homeschooling kembali mencuat setelah sejak anak-anak lahir kami memang sempat mempelajarinya. 'Abdan memang harus dibikinkan program, dan homeschooling kayaknya tepat untuk dia karena ternyata, setelah mogok itu ia memang menyatakan tidak mau sekolah....
Begitulah ...'Abdan resmi homeschooling bersama Abinya sementara saya masih tetap mengajar di PAUD itu.
Anandaku berlima, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri bundamu ini, saksikanlah, bahwa malam ini bunda memulai. Sebuah tindakan yang harusnya telah bunda pelihara semenjak setahun yang lalu, ketika kita memulai langkah-langkah kita ini.
Mari sejenak kita membuka cerita...
Kami adalah sebuah keluarga dengan 5 orang anak, masing-masing Aslim Fathin Abdul Hadi Zain (12 Juni 2001), 'Abdan Zaib Ali Zain (17 Agustus 2003), Fahri Daud Abdurrohim Zain (7 Maret 2007), Nayla Taqiyya Adiibah Zain (26 Maret 2009), dan Yumna Taqiyya Aqeelah Zain (10 Januari 2011).Kami tinggal di sebuah kota kecil di Kab Kediri Jawa Timur, kota Pare, yang dikenal masyarakat Indonesia dengan Kampung Inggrisnya. Kami adalah keluarga yang menerapkan model pendidikan Home Education untuk putra putri kami, sebuah model pendidikan berbasis keluarga.
01 Februari 2010 kami mengawali langkah pendidikan sekolah rumah untuk ketiga anak kami, Fathin, 'Abdan dan Fahri. Saat itu saya masih aktif mengajar di sebuah PAUD favorit di kota Pare yang saya tekuni sejak tahun 2006. Keputusan untuk menyekolah rumahkan anak-anak dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya faktor biaya, mulai terbukanya cakrawala pandang kami sebagai orang tua terhadap model pendidikan, dan semakin memprihatinkannya sistem pendidikan di negeri tercinta ini.
Keputusan ini dipicu oleh kondisi putra kedua kami 'Abdan, yang mulai enggan masuk sekolah. Pada tahun ajaran 2009/2010 usia 'Abdan yang waktu itu duduk di bangku TK-B belum genap 7 tahun. Atas berbagai pertimbangan, terutama berkenaan dengan kematangan anak, kami tidak memasukkannya ke SD melainkan membujuknya untuk bisa belajar di TK-B. Beberapa temannya pun masih tinggal di TK-B karena faktor usia juga. 'Abdan agak 'mogok', dan kami terus membujuknya. Saya berusaha membuatnya gembira untuk bisa kembali ke sekolah yang juga disana saya mengajar. Kami bertahan pada kondisi ini meski harus selalu menghindari cara-cara paksaan untuk membuatnya bisa berangkat.
Menjelang bulan Desember 2009 'Abdan kembali mogok dan benar-benar mogok. Kami tak punya cara lain selain membiarkannya bersantai di rumah, ikut Abi kerja atau pergi ke rumah nenek. 'Abdan begitu menikmati dunia barunya. Saya merasa berdosa, tapi ya sudahlah, ini salah kami juga. Kenapa memasukkannya ke PAUD terlalu dini yang akibatnya bisa membuat tekuranginya hak dia untuk menghabiskan dunia bermainnya jika kami teruskan ia ke SD, ya sudahlah gapapa ga sekolah...
Mulai saat itulah kecenderungan pada model homeschooling kembali mencuat setelah sejak anak-anak lahir kami memang sempat mempelajarinya. 'Abdan memang harus dibikinkan program, dan homeschooling kayaknya tepat untuk dia karena ternyata, setelah mogok itu ia memang menyatakan tidak mau sekolah....
Begitulah ...'Abdan resmi homeschooling bersama Abinya sementara saya masih tetap mengajar di PAUD itu.
Langganan:
Postingan (Atom)