Tampilkan postingan dengan label Referensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Referensi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 April 2013

Mau menuntut ilmu kok di TEST dulu?

Oleh : Fathia Asyafiqah

Mengapa banyak sekolah sekarang yang memberi test untuk siswa yang ingin menduduki bangku-bangku di sekolah itu?
- Agar sekolah itu menjadi sekolah paling bagus? ideal karena murid-murid didiknya memang ’sudah’ pintar?

Jika jawabannya seperti itu –> Lantas? kemana gelar “tanpa tanda jasa” itu?

Setau saya, Sekolah adalah tempat dimana orang-orang yang sedang berada di bawah, di naikan dengan pendidikan. di naikkan oleh guru-guru yang selalu mendukung , selalu menyuport, selalu tersenyum dan bersabar dan juga yakin setiap anak adalah bintang-bintang di masa depan nanti.

Sebagai anak sekolahan, saya selalu berpikir dan selalu bertanya dalam benak ini. saat melihat ratusan, bahkan ribuan orang mendaftar ke sekolah favorite di kota, provinsi atau apapun itu. Dan tidak lain tidak bukan, sekolah-sekolah favorite itu pasti mengadakan test. Mulai dari test Psikolog, Lisan dan tertulis.



Hasil yang mereka dapatkan apa? muri-murid yang benar-benar pintar. Lalu? anak-anak yang bisa dibilang dibawah mereka mau kemana? . Mereka mencari tempat baru, mencari sekolah 1 tingkat di bawah sekolah nomer pertama itu, jika mereka gagal? turun lagi satu tingkat, satu tingkat. Jika seperti itu, miris sekali ya..

Itu yang saya pikirkan.. Kesimpulan ber-diskusi dengan teman-teman, guru, bahkan orang tua yang ingin saya sampaikan disini..

1. Kenapa kita selalu ingin memasuki sekolah favorite? karena kita mampu dan percaya kita bisa masuk karena telah menjadi yang terbaik? pasti.
Tapi, coba deh kita renungkan sedikit hal positif nya. jika tidak menerima tidak apa. ini hanya hasil diskusi saya dan teman-teman saya.

Kenapa harus sekolah paling unggul yang kita pilih? Kita memang pintar, dan kita akan bersaing di sekolah yang berisi anak-anak pintar juga. Tau tidak? buat apa kita pintar tetapi tenggelam karena masih ada yang lebih pintar?
di sekolah biasa, kita bisa muncul. menjadi yang paling depan. Bakat kita akan muncul dan kita bisa memotifasi teman-teman kita.
bukan populer yang kita cari, tetapi memanfaatkan kemampuan kita untuk membangun teman-teman kita yang lain

2. Kenapa sekolah sekarang menyeleksi orang yang pintar saja?.
jujur saja, guru-guru sekarang bila dlihat tidak mau capek. Guru-guru di sekolah favorite pasti gampang mengajar mereka kan? mereka sudah pintar.
Jujur saja, seharusnya bukan kah guru itu berperan mengangkat anak didiknya menjadi yang paling atas dari pada anak didik guru-guru yang lain?

banyak kejadian nyata yang saya alami..
-Salah satunya adalah = ada seorang teman saya, kelas 6 SD belum bisa membaca. ya, belum bisa membaca. Tetapi? mengapa anak itu terus dinaikan tingkat hingga ia sama, sejajar dengan teman-teman yang lain nya? kemana peran guru? Apakah peran mereka menyerahkan anak itu keguru yang lain? tidak mau berusaha agar ia bisa mebaca seperti anak-anak yang lain nya?

Sekolah yang terbaik, adalah sekolah yang mau menerima anak-anak spesial, anak-anak yang butuh guru. butuh seeorang yang memang benar-benar guru.
Sekolah yang terbaik, adalah sekolah yang bisa mendengarkan suara muid-murid nya. Suara murid yang jarak kita temukan. sekolah sekarang lebih mengedepankan sopan santun. Sopan santun yang membuat murid takut berbicara. Takut dibilang tidak sopan.
Sebenarnya, Boleh kita berbicara. Asal itu benar dan masih menghormati orang yang lebih tua.

Mari teman-teman kita buktikan bahwa pendidikan bukan untuk anak yang memang pintar. Tapi juga untuk kita semua!
GURU DAN SEKOLAH YANG TERBAIK ADALAH YANG BISA MENDIDIK KITA MENJADI BINTANG! MENJADI SESEORANG YANG BESAR!
Bukan menjadi seseorang yang menjadi pintar, sarjana dan mencari kerja. Itu tidak dibutuhkan. Karena itu, negara kita banyak pengangguran.

Sumber  :

Minggu, 03 Maret 2013

23 Keuntungan Menghafal Al-Quran

Banyak hadits Rasulullah saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur'an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, "Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur'an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh." (HR. Tirmidzi)


Berikut adalah Fadhail Hifzhul Qur'an (Keutamaan menghafal Qur'an) yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, agar kita lebih terangsang dan bergairah dalam berinteraksi dengan Al Qur'an khususnya menghafal.

Fadhail Dunia

1. Hifzhul Qur'an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah

Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur'an,
"Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur'an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, 'Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat'" (HR. Bukhari)

Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur'an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu,
"Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur'an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya." (HR. Hakim)

2. Al Qur'an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya

"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya" (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Seorang hafizh Al Qur'an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW)

Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur'an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur'an. Rasul mendahulukan pemakamannya.

"Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, "Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur'an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat." (HR. Bukhari)

Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi.

Dari Abu Hurairah ia berkata, "Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, "Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,"Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah." Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?" Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, "Benar." Nabi bersabda, "Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi." (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa'i)

Kepada hafizh Al Qur'an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama'ah. Rasulullah SAW bersabda,
"Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya." (HR. Muslim)

4. Hifzhul Qur'an merupakan ciri orang yang diberi ilmu

"Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim." (QS Al-Ankabuut 29:49)

5. Hafizh Qur'an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi

"Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulullah?" Rasul menjawab, "Para ahli Al Qur'an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya." (HR. Ahmad)


6. Menghormati seorang hafizh Al Qur'an berarti mengagungkan Allah

"Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur'an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil." (HR. Abu Daud)


Fadhail Akhirat

7. Al Qur'an akan menjadi penolong (syafa'at) bagi penghafal

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah olehmu Al Qur'an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa'at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya)."" (HR. Muslim)

8. Hifzhul Qur'an akan meninggikan derajat manusia di surga

Dari Abdillah bin Amr bin 'Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Akan dikatakan kepada shahib Al Qur'an, "Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur'an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca." (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur'an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

9. Para penghafal Al Qur'an bersama para malaikat yang mulia dan taat

"Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur'an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat." (Muttafaqun ?alaih)

10. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan)

Mereka akan dipanggil, "Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?" Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)

11. Kedua orang tua penghafal Al Qur'an mendapat kemuliaan

Siapa yang membaca Al Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, "Mengapa kami dipakaikan jubah ini?" Dijawab,"Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur'an." (HR. Al-Hakim)

12. Penghafal Al Qur'an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Qur'an


Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap hurufnya.

"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf." (HR. At-Turmudzi)

13. Penghafal Al Qur'an adalah orang yang akan mendapatkan untung dalam perdagangannya dan tidak akan merugi

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS Faathir 35:29-30)

Adapun fadilah-fadilah lain seperti penghafal Al Qur'an tidak akan pikun, akalnya selalu sehat, akan dapat memberi syafa'at kepada sepuluh orang dari keluarganya, serta orang yang paling kaya, do'anya selalu dikabulkan dan pembawa panji-panji Islam, semuanya tersebut dalam hadits yang dhaif.

"Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, dan keluarga kami sebagai penghafal Al Qur'an, jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil manfaat dari Al Qur'an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al Qur'an. Allahumma amin" (dian)

Maraji':
Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur'an Da'iyah.
Dr. Yusuf Qardhawi. Berinteraksi dengan Al Quran.

Sebuah kajian baru membuktikan bahwa semakin banyak hafalan seseorang terhadap Al-Qur’an Al-Karim, maka semakin baik pula kesehatan. Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani’, guru besar psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, meneliti dua kelompok responden, yaitu mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz yang jumlahnya 170 responden, dan kelompok mahasis Al-Imam Asy-Syathibi yang juga berjumlah 170 responden.
Peneliti mendefinisikan kesehatan psikologis sebagai kondisi dimana terjadi keselarasan psikis individu dari tiga faktor utama: agama, spiritual, sosiologis, dan jasmani. Untuk mengukurnya, peneliti menggunakan parameter kesehatan psikis –nya Sulaiman Duwairiat, yang terdiri dari 60 unit.
Penelitian ini menemukan adanya korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis, dan mahasiswa yang unggul di bidang hafalan Al-Qur’an itu memiliki tingkat kesehatan psikis dengan perbedaan yang sangat jelas.
Ada lebih dari tujuh puluh kajian, baik Islam atau asing, yang seluruhnya menegaskan urgensi agama dalam meningkatkan kesehatan psikis seseorang, kematangan dan ketenangannya. Sebagaimana berbagai penelitian di Arab Saudi sampai pada hasil yang menegaskan peran Al-Qur’an Al-Karim dalam meningkatkan ketrampilan dasar siswa-siswa sekolah dasar, dan pengaruh yang positif dari hafalan Al-Qur’an untuk mencapai IP yang tinggi bagi mahasiswa.
Kajian tersebut memberi gambaran yang jelas tentang hubungan antara keberagamaan dengan berbagai bentuknya, terutama menghafal Al-Qur’an Al-Karim, dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kesehatan psikisi individu dan kepribadiannya, dibanding dengan individu-individu yang tidak disiplin dengan ajaran-ajaran agama, atau tidak menghafal Al-Qur’an, sedikit atau seluruhnya.
Komentar terhadap Kajian:
Setiap orang yang menghafal sebagian dari Al-Qur’an dan mendengar bacaan Al-Qur’an secara kontinu itu pasti merasakan perubahan yang besar dalam hidupnya. Hafalan Al-Qur’an juga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Melalui pengalaman dan pengamatan, dipastikan bahwa hafalan Al-Qur’an itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada seseorang, dan membantunya terjaga dari berbagai penyakit.
Berikut ini adalah manfaat-manfaat hafalan Al-Qur’an, seperti yang penulis dan orang lain rasakan:
14. Pikiran yang jernih.
15. Kekuatan memori.
16. Ketenangan dan stabilitas psikologis.
17. Senang dan bahagia.
18. Terbebas dari takut, sedih dan cemas.
19. Mampu berbicara di depan publik.
20. Mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain.
21. Terbebas dari penyakit akut.
22. Dapat meningkatkan IQ.
23. Memiliki kekuatan dan ketenangan psikilogis.
Karena itu Allah berfirman, “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.” (QS Al-‘Ankabut [29]: 49)
Ini adalah sebagian dari manfaat keduniaan. Ada manfaat-manfaat yang jauh lebih besar di akhirat, yaitu kebahagiaan saat berjumpa dengan Allah, memperoleh ridha dan nikmat yang abadi, mendapatkan tempat di dekat kekasih mulia Muhammad Saw.

Sumber:  

Sabtu, 24 November 2012

Fokus Pada Kebaikan Anak Anda

" Duh tau nggak anakku paling nggak PD orangnya, kalau disuruh kenalan pasti malu"
" Iya, anakku juga kalau giliran nyanyi kedepan pasti langsung mau nangis."
"Wah, kalo anakku lain lagi dia malah kadang terlalu berani orangnya"

Itu kata-kata yang sering saya dengar ataupun bahkan saya sendiri malah sering yang sering mengucapkan ketika bertemu dengan ibu-ibu lain. Ada saja kelemahan anak yang diumbar ketika bertemu ibu-ibu lain. Bahkan tak jarang diucapkan tepat didepan sang anak. Sebenarnya saya mengeluarkan statement seperti itu hanya karena ingin curhat sama teman, sambil mencari solusi atas masalah anak saya tersebut.

Hanya saja terlalu sering dibicarakan masalah tersebut ternyata malah semakin melekat ke anak. Loh kenapa begitu yah?

Sebagian orang tua (termasuk saya :p) terlalu sering memikirkan berbagai hal yang kurang pada diri anak. Mereka terlalu fokus pada beberapa kelemahan kecil dan melupakan kebaikan pada anak yang jumlahnya lebih banyak. Sehingga akhirnya masalah kecil tersebut malah menjadi besar dan kebaikan-kebaikan anak menjadi tertutup oleh masalah itu. Secara tidak langsung mereka sering memberikan cap jelek pada anak. Anakpun setelah beberapa kali mendengar komentar negatif dari orangtuanya, akan memandang dirinya negatif.

Lalu bagaimana caranya menghapus stigma negatif yang telah ada? Caranya adalah dengan fokus pada kebaikan anak. Ini saya pelajari melalui dua seminar yaitu di Cikeas dan Seminar Anak Soleh, Pintar dan Kaya. Novian Triwidia Jaya menyampaikan trik yang bisa orang tua pakai untuk lebih fokus pada kebaikan anak. Dengan cara menuliskan 10 kebaikan anak dalam waktu 10 menit. Jika tidak dapat kita lakukan maka kita bisa mencobanya setiap hari dengan cara minimal menulis 2 kebaikan anak setiap harinya.

Kebaikan yang kita tulis juga hendaknya mengungkapkan detil bukan gambaran umum seperti anak hebat, anak soleh dan sebagainya.

Ini contoh beberapa kebaikan Rafif yang saya tulis :
- Rafif mau menolong adiknya naik kemobil dan kemudian membantu menutup pintunya.
- Rafif senang membaca buku
- Rafif sudah pintar menggambar mobil
- Rafif mau berbagi makanan dengan teman atau adiknya
- Rafif sudah bisa membatasi bermain game

dan daftar ini akan terus bertambah panjang setiap harinya. Biarkan anak melihat atau mendengar berbagai kebaikan tersebut sehingga akan membuat dia percaya diri serta memandang positif dirinya

Setiap orang punya kelemahan termasuk anak saya, dan saya tidak ingin lagi membuat anak tertekan dengan kelemahannya. Insya Allah dengan fokus pada kelebihan atau kebaikkannya maka kelemahannya akan tidak berarti lagi


Sumber : http://www.daramaina.com

Minggu, 30 September 2012

Kreatif tanpa Musik

oleh Mohammad Fauzil Adhim  pada 27 September 2012 pukul 22:22 ·


Seorang ibu bertanya tentang anaknya. Sejak kecil selalu memperoleh ranking bagus di kelasnya. Prestasi akademik selalu cemerlang. Tetapi belakangan minat belajarnya merosot drastis. Tak ada gairah belajar. Tak ada minat untuk mengerjakan PR. Ketika ibunya mengingatkan untuk belajar lebih giat agar rankingnya tidak jeblok, ia berkata, “Aku bosan sama ranking.”

Pertanyaan ibu ini mengingatkan saya pada teori motivasi. Ada motivasi ekstrinsik, ada motivasi intrinsik. Anak kita menyapu lantai agar mendapat sebiji permen dari orangtua, tekun belajar agar dapat ranking satu (karena nanti kita belikan ia sebuah sepeda mungil), atau bersemangat memberesi kamar agar diajak jalan-jalan, adalah contoh motivasi ekstrinsik. Anak melakukan aktivitas apa pun, termasuk shalat dan mengaji, karena ingin mendapatkan hadiah yang dijanjikan kepadanya merupakan bentuk motivasi ekstrinsik. Kita rajin puasa Senin-Kamis karena ingin lulus ujian, bukan karena berserah diri kepada Allah Yang Maha Tinggi.

Motivasi ekstrinsik cepat pudar. Anak mudah kehilangan semangat karena hadiah yang dijanjikan –termasuk hadiah berupa “ranking”—tidak lagi memiliki daya tarik. Semangatnya melemah (less zeal) karena imbalan yang diberikan meaningless (kehilangan makna), sehingga tak ada lagi alasan untuk mengejar. Seperti anak ibu tadi, mereka bisa bosan dapat ranking yang bagus.

Kapan anak merasa bosan? Ketika anak merasa hadiah itu tak memberi manfaat apa-apa. Anak-anak tidak membutuhkan. Kalau dulu anak bersemangat menyapu untuk memperoleh permen, sekarang permen sudah tidak menarik lagi. Anak butuh rangsangan lebih besar untuk bertindak.

Cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi sekurangnya oleh dua hal. Pertama, nilai imbalan atau hadiah yang dijanjikan kepada anak. Setiap hadiah akan mengalami penyusutan nilai bagi anak. Saat anak belum pernah memegang, sebuah mobil mainan sangat menggiurkan bagi anak. Tetapi ketika berbagai jenis mainan sudah sering ia pegang, mobil-mobilan yang bagus lengkap dengan remote controlnya pun sudah tidak menarik lagi.

Melemahnya daya tarik imbalan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya aktivitas yang memberi daya tarik lebih besar. Video-game, misalnya. Semakin kuat keasyikan yang diperoleh anak saat bermain play-station, semakin lemah daya tarik imbalan yang kita janjikan agar anak mau belajar yang rajin. Lebih-lebih jika aktivitas lain yang mengasyikkan itu pada saat yang sama juga menyerap seluruh energi psikis anak sekaligus membuat anak pasif. Berbagai jenis game –juga tayangan TV—membuat anak terpaku secara pasif. Mereka dibombardir dengan gambar-gambar kekerasan yang berganti dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga memaksa mereka untuk terus memperhatikan tanpa berkedip.

Aktivitas semacam ini membuat anak mengalami kelelahan secara psikis. Ibarat truk, bebannya berlebih. Ibarat komputer, sistemnya hang. Macet. Meskipun kemampuannya sangat besar dan kecepatan prosesor sangat tinggi, tetapi tidak mampu mengerjakan tugas dengan baik. Anak-anak yang sedang hang, tidak mampu memusatkan perhatian saat belajar dan sulit mencerna buku yang ia baca. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang permainan yang ia pelototi di video-game. Dalam bahasa komputer, anak ini mengalami registry error. Badannya ada di kelas, telinganya mendengar suara guru, tetapi pikirannya ada di play-station.

Ketika anak mengalami hang, ia kehilangan rasa ingin tahu. Kreativitasnya tumpul. Ia tidak betah berpikir, mencari tahu dan menekuni kegiatan yang menuntutnya berpikir aktif. Ia kehilangan gagasan dan kecemerlangan berpikir, kecuali pikiran untuk kembali menyibukkan diri dengan video-game atau tayangan TV. Pada tingkat yang parah, anak mengalami kecanduan.

Anak yang terlalu banyak memelototi video-game sampai pada tingkat yang sangat menguras energi psikis, cenderung sangat pasif atau justru sebaliknya amat agresif. Mereka bisa seperi orang linglung. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Bisa juga sangat ganas. Mereka berperilaku sangat agresif karena pengaruh adegan yang disaksikan. Bukan karena dorongan kecerdasan.

Bisa juga terjadi anak pasif sekaligus impulsif. Secara sosial, mereka terputus dari lingkungan. Pada anak-anak yang tingkat kecanduannya sudah sangat akut, boleh dikata mereka tidak mempunyai kontak dengan orang lain, termasuk orangtua. Interaksinya cuma dengan benda bernama TV, play-station atau layar komputer yang menyajikan game. Mereka tidak betah berinteraksi dengan orang lain. Di saat yang sama, adegan kekerasan yang bertubi-tubi –khususnya dalam video-game—memberi efek desensitisasi. Perasaan mereka tumpul. Hati mereka keras.

Berapa jam waktu menonton yang sehat bagi anak? Sekitar 8 sampai 10 jam seminggu. Itu pun dengan catatan tayangannya masih cukup sehat. Jika tayangannya benar-benar sangat edukatif dan merangsang daya nalar anak, mereka bisa menonton maksimal 15 jam seminggu. Lebih dari itu sudah tidak sehat. Apalagi kalau acaranya banyak menayangkan kekerasan, jam menonton harus dipersingkat. Dalam The Smart Parent’s Guide to KIDS’ TV, Milton Chen menunjukkan bahwa durasi 4 jam sehari (28 jam seminggu) sudah termasuk kategori yang sangat menakutkan. Benar-benar membahayakan mental dan kepribadian anak. Apalagi kalau tayangan itu berupa video-game yang dari detik ke detik hanya menyajikan kekerasan, keganasan dan cuma memancing reaksi impulsif anak.

Alhasil, tak ada yang perlu kita salahkan kecuali diri sendiri kalau anak-anak kita kehilangan motivasi belajar, sementara setiap hari mereka memelototi TV enam jam sehari! Agaknya, ada benarnya ketika Fred Rogers berkata, “Barangkali televisi adalah satu-satunya peralatan elektronik yang lebih bermanfaat justru setelah dimatikan.”

Kedua, cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi oleh tekanan yang  mereka terima. Anak yang sering dibebani untuk mendapatkan ranking, cenderung cepat kehilangan minat. Ia belajar di bawah tekanan karena tidak ingin orangtuanya cemberut. Selebihnya, tak ada alasan yang menggerakkan jiwa untuk tekun membaca.

Motivasi ekstrinsik terbagi menjadi dua, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek misalnya permen yang kita berikan begitu anak menyapu, jangka panjang misalnya iming-iming pada anak kelas 4 SD kalau lulus UASBN dengan nilai tinggi akan dibelikan laptop baru. Semakin pendek dan nyata iming-iming yang kita berikan, semakin cepat kelihatan reaksinya, sekaligus semakin mudah hilang kekuatannya. Anak-anak yang digerakkan oleh motivasi ekstrinsik jangka pendek, ibaratnya sama dengan mobil mewah tanpa bensin. Kalau lagi didorong, jalan. Tapi kalau tak ada yang mendorong, mogok. Mobil tak bisa berjalan lagi.

Anak-anak yang memiliki motivasi intrinsik, sebaliknya, merasa asyik dengan apa yang dikerjakan, menemukan kegembiraan saat menghadapi tantangan, bahagia ketika mengerjakan tugas-tugas sehingga ia terlibat penuh secara emosional. Mereka berpartisipasi melakukan kegiatan karena menemukan kegembiraan, kebahagiaan, keasyikan atau makna dari apa yang dilakukannya. Bukan demi memperoleh hadiah. Dalam tindakan itu sendiri, ada yang ia dapatkan sebagaimana pendaki gunung memperoleh kepuasan. Kebahagiaannya terletak pada kemampuannya mengatasi rintangan. Bukan pada decak kagum orang yang memandang.

Dalam bukunya berjudul Adolescence (2001), John W. Santrock menulis bahwa motivasi intrinsik sangat mempengaruhi kreativitas dan rasa ingin tahu anak (natural curiosity). Anak-anak yang motivasi intrinsiknya kuat cenderung lebih kreatif, kaya gagasan, senantiasa menemukan ide-ide segar –pada tahap awal adalah ide-ide permainan—serta ketertarikan yang kuat dalam melakukan berbagai aktivitas. Mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, minat yang luas dan cenderung memiliki semangat belajar mandiri yang kuat.

Anak-anak yang memiliki motivasi intrinsik, betah membaca berjam-jam meskipun tidak ditunggui orangtua. Mereka merasa membaca sebagai kebutuhan. Bukan tuntutan orangtua dan sekolah.

Adakalanya anak memiliki motivasi intrinsik untuk suatu bidang, tetapi tidak untuk bidang yang lain. Adakalanya anak memiliki motivasi intrinsik untuk hampir semua bidang. Kapan saja, dimana saja dan mengerjakan apa saja, ia bersemangat. Bersungguh-sungguh ia belajar, meskipun tidak begitu menguasai.

Kuatnya motivasi intrinsik mampu membuat seseorang berani menghadapi kesulitan. Kisah tentang Imam Bukhari adalah kisah tentang manusia yang memiliki motivasi intrinsik luar biasa. Ia menempuh perjalanan beratus-ratus kilo, memenuhi kakinya dengan kepenatan, dan membiarkan tubuhnya disengat oleh panasnya matahari demi mendapatkan sebuah hadis. Kalau ia menginginkan harta dari penguasa, tak perlu ia menghabiskan waktu hanya untuk mendapatkan sebuah hadis yang belum tentu ia ambil (karena hadis itu ternyata dha’if, misalnya). Tetapi ada kekuatan jiwa yang menggerakkannya. Ada kecintaan pada agama yang membuatnya tak pernah berhenti mencari ilmu.

Kalau motivasi intrinsiknya sudah kuat, tanpa fasilitas yang memadai pun mereka bisa tumbuh menjadi manusia cerdas luar biasa. Nama-nama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad ibn Hanbal atau –apalagi—Abu Hurairah, bukanlah orang yang memiliki cukup sarana untuk belajar. Tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan jiwa menakjubkan. Dahsyatnya motivasi mereka untuk menolong agama membuat daya ingat mereka sangat hebat dan pikiran mereka amat jernih.

Kisah para penemu juga merupakan kisah tentang motivasi intrinsik yang kuat. Bukan kisah tentang banyaknya fasilitas yang mereka miliki. Orang-orang super kreatif bukanlah mereka yang memperoleh latihan gerak dengan iringan musik yang –kadang tanpa disadari guru—sensual. Pernah, saya merasa amat sedih ketika menghadiri acara tutup tahun sebuah lembaga pendidikan. Atas nama kreativitas, anak-anak disuruh lenggak-lenggok memutar badan á la peragawati, diiringi dengan alunan musik menggoda. Seorang guru berdiri di samping, di seberang panggung, untuk mengawasi sekaligus mengarahkan dengan gerak mulut dan mata.

Mereka lupa –atau tidak tahu—bahwa ketika seorang anak menggerakkan dadanya, lalu memperoleh tepuk tangan meriah, yang menari-nari di benaknya bukanlah “isyhadu bi anna muslimun”, melainkan sensualitas. Bukan kreativitas.


Bismillah...
Ya Rabb...tunjukkanlah segera pada kami cahaya-Mu... aamiin

Jumat, 14 September 2012

Menghadapi Anak Yang Suka Membangkang

Anak balita anda sekarang sering membantah? Tak usah gemas apalagi sampai hilang kesabaran, sikap membantah yang menjadi-jadi di usia prasekolah akan hilang dengan sendirinya bila orang tua tahu bagaimana menghadapinya secara tepat. Sebagaimana diungkapkan Ibu Ery Soekresni,Psi yang membagikan pengalaman dan tips dalam menangani anak-anak yang suka membantah.
“Dina, sudah jam empat, waktunya mandi!” seru Sari kepada anaknya yang berusia 4 tahun. Dina membalas, “Enggak mau ah. Aku kan tadi sudah mandi!” “Tadi itu mandi pagi, Dina!” “Tapi itu kan juga mandi! Aku enggak mau mandi lagi.” Wah, sebagai orang tua kita memang harus berusaha sabar menghadapi si prasekolah, karena jarang sekali mereka mau memenuhi permintaan orang tua tanpa argumentasi atau bantahan. Ery Soekresno, Psi., berkomentar, memang begitulah mereka; suka sekali membantah-suka sekali membangkang.
Namun menurutnya, hal ini bukan tidak ada penyebabnya. Ery menuturkan beberapa faktor yang bisa menjadi akar permasalahan kenapa si kecil sering kali menggerogoti kesabaran orang tuanya:
1. Fase membangkang/membantah
Pada usia sekitar 4 tahun, kemampuan motorik kasar, motorik halus dan kemampuan berbicara anak sudah berkembang pesat. Disamping itu mereka tengah berada pada tahap agresif secara fisik dan verbal; senang memukul, menggigit, menendang, sekaligus juga berkata-kata “negatif”, seperti mengatakan, “Mama jahat”, “Kakak nakal!” Ini karena si prasekolah menggunakan kemampuan berbahasanya untuk menghadapi masalah atau sesuatu yang tak diinginkannya. Umpamanya, kasus Dina yang membantah ketika disuruh mandi. Bisa jadi karena pada saat yang bersamaan dia sedang bermain. Jadi dengan mandi berarti dia mesti meninggalkan keasyikannya.
2. Ingin menguji orang tua
Banyak hal yang menyebabkan anak “menguji” orang tuanya. Si prasekolah merasa tak diperhatikan, misalnya. Anak berpikir dengan cara membantah dan bersikap negativistik maka diharapkan orang tua akan memperhatikannya lagi.
3. Mulai memahami dunia
Di usia 3-5 tahun, anak mulai belajar menerima dan menyadari bahwa dirinya tak bisa mengendalikan semuanya. Seperti diketahui, saat batita, anak begitu egosentris; merasa dunia selalu berpusat padanya dan dia dapat mengatur segalanya. Nah, di usia prasekolah, mereka mulai belajar menerima keadaan yang ternyata tak bisa lagi diatur sesuai keinginannya. Ternyata ada hal-hal di luar kekuasaannya. Dia mulai dikenai berbagai peraturan orang tua; kapan harus tidur, kapan sekolah, kapan makan, dan kapan boleh bermain.
4. Mulai mampu berpikir secara abstrak
Anak usia 4-5 tahun mulai memiliki kemampuan berpikir abstrak. Wawasan berpikirnya sudah makin luas. Dia mulai mendapat berbagai informasi dari aneka sumber. Namun, yang dilakukannya masih meraba-raba, kadang benar kadang salah. Dalam istilah lain, keputusan dan tindakan yang diambilnya masih bersifat hitam-putih.
5. Pengaruh lingkungan
Orang tua mungkin merasa sudah memberikan contoh yang baik kepada anak, tapi ternyata si kecil tetap saja suka membantah. Salah satu penyebabnya adalah pengaruh lingkungan; bisa di sekolah atau di rumah. Anak mencontoh perilaku membangkang dari orang lain. Atau mungkin karena penerapan pola asuh orang tua yang tidak tepat sehingga menyebabkan anak selalu melakukan penolakan dan sikap yang negatif seperti itu.
BUTUH KESABARAN
Agar bisa sabar, Eri mengimbau para orang tua untuk menyimak informasi mengenai tahapan tumbuh-kembang anak. Ya, mereka memang seperti itu adanya. Lagi pula kadang-kadang bantahan anak dilatarbelakangi alasan yang kuat, kok. Jadi, orang tua juga mesti mencari penyebab mengapa si kecil membangkang. Berikut ini bentuk-bentuk bantahan si prasekolah dan cara menghadapinya:
1. Menolak makan
Penyebab:
* Anak jadi ogah menyantap makanan karena awalnya mungkin orang tua terkesan memaksa.
* Menu yang disajikan dirasa membosankan.
Cara mengatasi:
* Bujuk anak, “Kakak mau makan jam berapa?” atau “Sudah waktunya makan. Kakak mau makan apa?”
* Berikan menu makanan yang variatif untuk memancing selera makannya.
2. Tak mau tidur tepat waktu
Penyebab:
Si prasekolah memang senang tawar-menawar. Misalnya, dia tak mau tidur tepat jam 8 malam. Maunya tidur jam 10. Alasan yang dilontarkan beragam, misalnya karena belum ngantuk, ingin nonton dulu acara televisi yang menarik, menunggu ayah atau ibu pulang dari kantor, atau meniru ayah dan ibu yang memang biasa tidur jam 10 malam.
Cara mengatasi:
* Jelaskan bahwa jam 8 malam memang waktunya tidur. Itu sebuah peraturan yang mesti ditaati. Kalaupun ia belum mengantuk, anak tetap harus masuk kamar. “Kalau kamu belum ngantuk tak apa-apa. Tapi tetap harus masuk kamar.”
* Beri kesempatan ia tidur larut di hari-hari spesial. Misalnya, di malam minggu anak boleh terjaga hingga jam 10 malam. Dengan begitu, anak tak akan membantah lagi atau tawar-menawar karena dia sudah punya alternatif waktu, kapan boleh tidur larut malam.
3. Tak mau mandi
Penyebab:
Menurut Ery, anak usia 4-5 tahun kadang memang suka penampilan yang “jorok”. Salah satunya dengan cara tak mau mandi. Memaksa tak akan menyelesaikan masalah, kecuali menetapkan strategi lain.
Cara Mengatasi:
* Orang tua mesti memperhatikan situasi atau kondisi si kecil. Kalau ia tengah asyik bermain, coba beri waktu beberapa menit untuk ia menyelesaikannya. “Kak, nanti kalau jarum jamnya di angka 10, Kakak mandi ya. Sekarang terusin dulu mainnya!”
* Menerapkan aturan jam mandi. Jika waktu mandi ditetapkan pada jam 4 sore, maka 15 menit sebelum jam mandi anak sebaiknya sudah diingatkan. Dengan begitu, ia diberi waktu untuk bersiap-siap menyelesaikan aktivitasnya saat itu.
* Berikan contoh yang baik atau teladan kepada anak. Biasanya anak tak mau mandi kalau ayah/ibu juga belum mandi. Alasan apa yang akan Anda kemukakan kalau anak balik mengingatkan, “Ibu juga, kan, belum mandi?”
JANGAN DIDIAMKAN
Walau begitu, menurut Ery, anak yang suka membangkang perlu ditangani. Bukan apa-apa, kalau dibiarkan mereka akan mempertahankan sikap kerasnya dan terbiasa membangkang. Anak akan menganggap memang begitulah caranya menyikapi hidup. Agar dampak negatif seperti itu bisa dihindari, orang tua sebaiknya peka terhadap kebutuhan anak.
Si kecil yang suka membangkang dapat ditangani dengan cara-cara berikut:
* Komunikasi aktif
Sikap membangkang anak bisa direndam dengan selalu mengajaknya berkomunikasi aktif. Ajukan setiap peraturan dengan disertai penjelasan. “Kakak perlu mandi karena badan Kakak kan kotor habis main seharian.” Komunikasi semacam itu akan menyurutkan sikap membangkang anak karena ia paham akan konsekuensi bila ia tak melakukan peraturan itu. Misalnya, “Kalau aku enggak mandi nanti badanku kotor. Itu kan berarti mengundang penyakit. Wah, bisa-bisa nanti aku sakit, terus enggak bisa main dong!”
* Selalu diberi pilihan
Jangan sekali-kali mendikte anak. Berikan instruksi dengan gaya mengajak. “Nak, Ini sudah jam berapa? Gimana kalau mandi dulu? Nanti keburu sore, lo.” Intinya, ciptakan cara kreatif adalah membujuk anak.
* Sikapi dengan lemah lembut
Hindari cara keras karena justru akan membuat anak makin membangkang. Kalau seperti itu, jadi tak menyelesaikan masalah, bukan? Lagi pula perilaku marah orang tua bisa ditiru dan dijadikan pola bagi anak untuk menyelesaikan masalahnya. Cara bijaksana yang bisa dilakukan adalah jangan mudah terpancing emosi oleh penolakan si kecil. Berikan penjelasan dengan lemah lembut dan tidak mudah mengumbar marah.
Umpamanya, “Tolong bereskan paselnya dong sayang.” “Enggak mau. Males”. “Wah, nanti kalau kepingan paselmu hilang satu, Kakak enggak bisa main lagi lo.”
* Menghargai perilaku positif
Pujilah dan ucapkan betapa senang ayah dan ibu jika ia melakukan perbuatan baik. Kalau memungkinkan, berikan hadiah atau setidaknya elusan dan kecupan sayang sehingga dia merasa dihargai. Misalnya, si prasekolah bersedia makan sesuai waktu yang sudah ditentukan. Ucapkan, “Wah, Mama senang banget lo lihat Kakak mau makan dengan lahap.”
* Konsisten terhadap aturan yang telah dibuat
Terapkan peraturan dengan jelas dan menetap, misalnya kalau sudah ditentukan tidur jam 8 malam, patuhi jadwal tersebut dari hari ke hari. Jelaskan apa dampak atau risikonya kalau tidur larut malam. Menerapkan aturan yang konsisten juga melatih anak agar tahu bahwa hidup tak bisa diatur semau-maunya sendiri. “Kakak harus tidur jam 8, karena kalau kemalaman, besok Kakak kesiangan ke sekolah. Kalau kesiangan, Kakak enggak akan sempat main ayunan dulu karena harus buru-buru masuk kelas.”
* Introspeksi
Kalau anak tidak mau menurut orang tua, maka ayah/ibu harus introspeksi diri mengapa si kecil sering membantah. Jangan-jangan karena kesalahan orang tua sendiri yang membuat anak tak mau menurut. Misalnya, karena cara menyuruh atau memberi perintah seperti mendikte, menghardik, atau membentak, jadinya si kecil malah memberontak.
* Konsultasi dengan psikolog
Jika sifat negativistik anak masih terus berlanjut tak ada salahnya menemui psikolog. Kadang orang tua tak menyadari bahwa anak suka membantah karena mungkin kesalahan pola asuh. Barangkali orang tua juga perlu menjalani terapi atau konsultasi psikologi.
MENUNJUKKAN JATI DIRI
Semua saran tadi bisa jadi praktiknya tak semudah teorinya. Namun menurut Ery, orang tua jangan sampai menyerah. Carilah strategi atau taktik-taktik baru untuk mengatasinya. Lagi pula dilihat dari sisi lain, membangkang justru pertanda baik. Kenapa? “Karena anak sudah bisa menunjukkan jati dirinya bahwa dia merupakan individu yang berbeda dari ayah dan ibunya. Dia punya selera yang berbeda dari orang tua.”
Satu lagi yang mungkin dapat menghibur, yaitu membantah, membangkang, dan tak mau menurut orang tua sebetulnya merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Selama orang tua menanganinya secara benar, sikap seperti itu akan hilang. “Di usia sekolah, anak sudah tak membangkang lagi,” kata Ery


Sabtu, 31 Desember 2011

Medali Emas

Medali Emas - Sindo 24 November 2011


Berjalan mengelilingi Kota Namlea, tiba-tiba seseorang menyebut nama mantan seorang atlet sepak bola terkenal,yang pernah jaya di era tahun 1970-an. Semua orang lalu hanyut menceritakan prestasinya. 

Saya masih ingat namanya sering disebut radio dan koran.Tetapi, benarkah itu atlet yang dulu menjadi pujaan masyarakat? Berambut gimbal, baju compang-camping, dan lusuh, kaki penuh debu. Seorang teman menyebutkan persoalan yang dia hadapi. Setelah masa kejayaan,dia harus kembali ke masyarakat. Ijazah sekolah tidak ada, pengalaman kerja apalagi.Yang ada di sakunya hanya medali emas yang pernah didapatkan tim PSSI saat dia bergabung. 

Tetapi, sekarang medali itu sudah tidak ada lagi. Depresi, gila, atau entah apa namanya.Hidup terlunta- lunta tak ada perhatian. Nama besar tinggal sejarah. Lain lagi dengan Jumain, mantan atlet dayung nasional yang sering meraih medali emas. Meski tidak seburuk pemain bola tadi, Jumain yang pernah memperkuat SEA Games XV (1989) hanya bisa bekerja sebagai penjaga kapal di pantai Marina–Semarang dengan upah Rp500.000.

Nasib Jumain tidak lebih baik dari Marina Segedi yang meraih medali emas pencak silat pada SEA Games XIII (1981) di Filipina. Meski perempuan, Marina kini berprofesi sebagai sopir taksi di Jakarta. Nasib atlet-atlet tua yang saya sebut di atas sungguh menyesakkan dada, selain gelanggang olahraga nasional pasca-SEA Games atau PON yang tak terurus, ternyata atlet-atlet yang pernah berprestasi juga kurang mendapat perhatian. 

Saya juga pernah membaca mantan juara tinju kelas Bantam Yunior (1987) yang menjadi pemulung dan sebagainya. Nasib mereka tak sehebat Rudy Hartono, Liem Swie King, atau Icuk Sugiarto yang sukses hidup sebagai pengusaha. Sementara hari ini, 24 November 2011, atlet-atlet peraih medali emas SEA Games akan mendapatkan insentif sebesar Rp200 juta per orang per medali. Kita perlu mengingatkan bahwa uang sebesar itu bisa saja mengubah hidup menjadi lebih baik, namun bisa juga sebaliknya. 

PLC 
Ibarat produk, setiap atlet juga memiliki PLC (product life cycle) yang relatif pendek. Atlet adalah profesi yang ”cemerlang” di usia muda.Paling panjang, seorang atlet di dunia amatir dapat bertahan antara 10–12 tahun.Lewat usia tertentu, siklus hidupnya akan berakhir. Padahal usia muda hanya sementara, dan untuk meraih prestasi, seorang atlet harus mengabdikan hampir seluruh masa mudanya untuk olahraga. 

Seperti atlet golf perempuan asal Korea Selatan, Seri Park, yang meninggalkan dunia sekolah, atlet-atlet kita juga banyak yang melakukan hal serupa. Selain fokus, sebagian atlet diketahui juga berasal dari kalangan kurang mampu yang memperbaiki nasib keluarga melalui olahraga. Kalau olahraga yang ditekuninya favorit, dia bisa mencetak prestasi setiap tahun dalam kurun waktu tertentu. 

Dan kalau wajahnya khas dan ceritanya unik, mereka bisa mendapat rezeki sampingan, baik sebagai bintang iklan,bintang layar lebar, atau yang lebih beruntung lagi mendapat kan mertua yang hebat. Tetapi berapa banyak atlet yang beruntung seperti Ade Rai, Taufik Hidayat, atau Rudy Hartono? Tentu tidak banyak,bukan? Dalam kurun waktu PLC yang pendek itu kita perlu mengingatkan para atlet agar mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum masa emasnya berakhir. 

Jendela emas yang hanya berlangsung 10–12 tahun itu berlangsung begitu cepat, dan mereka perlu berpikir keras agar tidak bernasib seperti seniorsenior mereka yang kurang beruntung. Sikap setiap orang terhadap masa depan tentu berbeda- beda.Ada yang jauh-jauh hari sudah berpikir dan mempersiapkan diri, namun ada juga yang masih ingin bersenang- senang menikmati masa muda dengan uang yang berlimpah dan penuh pujapuji. 

Kalau seorang atlet meraih empat medali emas ditambah beberapa medali perak dan perunggu, dia hampir pasti akan membawa bonus minimal sebesar Rp1 miliar.Ini tentu bukan jumlah yang kecil. Namun, seperti orang pensiunan yang selama bertahuntahun hanya terlatih menjadi pegawai,sudah pasti seseorang akan mudah terjerumus dan kebingungan, seorang yang tidak bisa mengelola uang perlu dibekali dengan perencanaan keuangan yang sehat. 

Lakukanlah Investasi 
Orang-orang dulu percaya bahwa ”hemat adalah pangkal kaya”. Meski saya hampir tak pernah melihat orang yang menjadi kaya karena hidupnya sangat hemat, saya juga tidak melihat ada masa depan di tangan orang-orang yang boros. Atlet-atlet yang cerdas tentu perlu merencanakan tindakannya dengan penuh kehati-hatian. Yang jelas, konsumsi yang berlebihan bukanlah hal yang disarankan. 

Atlet yang cerdik dapat menggunakan uangnya untuk berinvestasi, baik dalam bidang pendidikan, bermain saham, atau investasi dalam usaha-usaha tertentu.Tetapi, sebagai seorang pemula, semua investasi itu harus melewati masa belajar yang panjang. Karena itu, tak ada hasil yang diperoleh dalam sekejap. 

Semua butuh kerja keras dan mampu mengelola rasa frustrasi, mengelola kesabaran. Apa yang diinvestasikan hari ini baru akan berbuah lima– enam tahun ke depan. Itu pun hanya akan berbuah kalau jalannya benar. Saya ucapkan selamat kepada para atlet yang berprestasi dan berhati-hatilah dalam mengelola uang karena dia bisa menjadi sumber harapan masa depan, namun juga bisa menjadi sumber masalah.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/446189/34/

Perbaiki Sekolah

Perbaiki Sekolah - Sindo 8 Desember 2011

Hari Rabu kemarin saya diminta berbicara di hadapan para guru SMA-SMP Kanisius tentang apa yang harus disikapi untuk membentuk generasi baru. Sebelumnya, saya juga sudah berbicara hal yang sama di SMA Al Izhar, High Scope, dan SMAN 1 Gianyar. Apa yang menjadi keprihatinan orang tua dan guru?

Pertama, mereka ingin mengklarifikasi benarkah pendidikan di Indonesia adalah yang terberat di dunia?. Kedua mereka ingin mengetahui mengapa anak-anak kita hanya berhenti sampai di level juara Olimpiade matematika (dan fisika) saja? Dan Ketiga, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu pengajaran dan tingkat keberhasilan anak didik. 

Terberat – tersarat
Meski tidak tahu apakah kita masuk kategori “ter”, saya harus menyampaikan bahwa pendidikan dasar dan menengah kita memang berat. Saking beratnya, seorang ketua yayasan pada sebuah pendidikan swasta sempat memeriksa isi tas anak-anak TK dan SD Kelas 1 di Jakarta dan ia mengatakan rata-rata seorang bocah kecil membawa beban berupa buku dan alat tulis seberat 2,5 Kilogram.

Selain jumlah pelajaran yang diwajibkan Undang-undang Sisdiknas terlalu banyak (16-20), buku-buku pelajaran yang harus dibeli orang tua dari sekolah rata-rata juga terlalu tebal, dengan kualitas isi yang masih perlu dipertanyakan. Pengalaman saya sebagai orang tua yang membimbing anak sendiri dalam belajar menemukan rumus-rumus yang tidak konsisten dan membingungkan antara halaman yang satu dengan halaman-halaman berikutnya pada buku yang sama. Sudah begitu, sebagian besar guru ternyata mengaku kesulitan memilih rumus mana yang benar? Jadi rumus yang benar dan salah seringkali sama-sama diajarkan.

Tak banyak guru yang menyadari bahwa 80% isi sebuah buku, intinya hanya berada pada 20% dari jumlah halamannya. Akibat ketidaktahuan ini  jelas fatal, seluruh isi buku dijejalkan pada kepala anak didik. Meski dari 16-20 mata pelajaran yang diajarkan di SMU (seorang tua  murid SMK menyebutkan anaknya diberi 28 mata pelajaran) hanya 6 mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional, kesepuluh hingga 14 guru pada mata pelajaran lainnya berebut masuk kedalam otak anak-anak dengan cara yang sama. Mereka semua ingin mata ajarnya berperan sama kuatnya dengan mata pelajaran yang diuji secara nasional.

Lengkaplah sudah penderitaan anak-anak sekolah Indonesia. Semua guru menganggap pelajarannya penting. Sepenting itulah mereka bisa mmbuat anak tidak naik kelas hanya karena nilai mata pelajaran geografi dibawah 6, atau harus mengulang. Ada banyak guru yang beranggapan mengulang berarti bodoh, dan nilainya harus dibawah rata-rata murid lainnya. Kalau rata-ratanya 6, yang mengulang otomatis diberi nilai dibawah 6 tanpa diperiksa. Guru-guru kita masih beranggapan kalau murid ditekan maka anak-anak akan menjadi lebih respek, lebih rajin, atau lebih hebat. Padahal itu hanya mencerminkan ego-nya yang teramat besar dan dapat berakibat buruk bagi setiap anak-anak didik. 
Mata pelajaran-mata pelajaran yang maaf, harus saya katakan dapat dibuat lebih relax dan fun, telah dirubah menjadi momok  yang menakutkan. Ia dijadikan setara dengan ilmu pasti yang sarat rumus dan padat. Ia berebut perhatian yang sama dengan mata pelajaran–mata pelajaran yang diuji secara nasional. Disajikan terlalu serius dan berakibat hilangnya esensi yang mau dicapai. 

Untuk mengatasi hal ini saya menyarankan guru-guru pandai memilih esensi dari sebuah buku dan mulai membuat pelajaran-pelajaranya disampaikan dengan cara yang lebih fun dan menyenangkan.


Juara Olimpiade
Ini tentu kabar yang menggembirakan. Meski sering kalah dalam bidang-bidang lain, kita sering menyaksikan anak-anak asuhan Prof Yohannes Surya membawa medali emas olimpiade Matematika dan Fisika. Tetapi pertanyaannya kemana setelah itu? Apakah mereka akan mendapatkan hadiah Nobel? Menemukan teori-teori baru?
Meski semua itu dicapai dengan kerja keras, harus saya kabarkan bahwa beban ilmu yang kita berikan di sini memang sangat tinggi. Sekedar Anda ketahui saja, aljabar yang kita pelajari di level SMP di sini, ternyata baru diajarkan pada level SMA di negara-negara lain. Bahkan sewaktu saya mengambil program S3 di Amerika Serikat dan menjadi asisten Professor dengan mengajar di program S3, saya melihat anak-anak di Amerika Serikat baru mendapatkan differensial dan Integral di tingkat Universitas. Kita mengajarkan topik itu, bersama dengan topik mengenai matrix sejak di bangku SLTA.
Seringkali saya ingin mengulangi kalimat yang pernah saya sampaikan bahwa saya tidak komplain kalau sampai dengan ilmu yang sangat tinggi itu kita sudah sampai di Bulan atau di venus, dan bisa membuat otomatis kelas dunia. Kenyataannya ternyata tidak demikian.

Untuk menjadi penerima hadiah Nobel atau menjadi ahli matematika yang hebat, anak-anak itu harus memiliki keterampilan menulis yang hebat dan kemampuan mengelola rasa frustasi yang kuat. Sayangnya, beberapa sekolah yang sering juara olimpiade malah melarang guru-gurunya mendalami keterampilan menulis. Kalau anak-anak itu hanya jagoan mengolah rumus dan otak kanannya tidak dilatih, mereka juga tidak akan menjadi orang hebat untuk diri mereka sendiri. Mereka akan frustasi, karena tidak ada pengakuan.

 Menjadi Manusia Hebat
Akhirnya saya harus menutup tulisan ini dengan mengajak para guru memeriksa kembali, benarkah cara-cara yang ditempuh sekarang akan melahirkan manusia-manusia hebat?
Manusia hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai mata pelajaran yang tinggi-tinggi, melainkan manusia berkarakter kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka, dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik. Kalau ini sudah jelas, buat apa membuang waktu sia-sia?

Rhenald Kasali
Guru Besa Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/450011/34/