Selasa, 08 Desember 2015

Meng-Aqillbaligh-kan Anak

Materi pertama dari Psikolog lulusan UI, Drs. Adriano Rusfi, S.Psi atau yang sering di sapa Bang Aad. Beliau menyampaikan materi Melahirkan Generasi Aqil Baligh untuk Peradaban Indonesia yang Lebih Hijau dan Lebih Damai.

Konsultan SDM dan Pendidikan Independen yang pernah menjadi Pimpinan Umum Majalah Ummi ini membuka materi dengan pertanyaan: “Apa yang membuat anak-anak kita tertarik dengan ISIS atau NII? Mengapa seorang anak usia 13 tahun bisa mengendarai mobil balap dan menewaskan banyak orang? Mengapa tawuran? Mengapa pakai narkoba?”
Berdasarkan pengalaman beliau bekerja pada BNN di bagian prevensi, penangkapan ternyata hanya memiliki efek keberhasilan 2%. Bahkan rehabilitasi tingkat keberhasilannya hanya 6%. Artinya jika 100 orang di rehabilitasi, 94 orang akan kembali jadi pemakai.

Kalau dulu Bung Karno bilang, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Sekarang kita bilang, “Beri aku satu remaja, pusing awak dibuatnya.”
Pemuda memang identik dengan semangat perubahan. Ini merupakan salah satu penyebab mengapa pada masa Rasullullah, Islam lebih berkembang di Madinah daripada di Mekah. Saat itu di Madinah lebih banyak penduduk mudanya, dibandingkan dengan Mekah yang lebih banyak penduduk berusia lanjutnya.

Di masa awal kemerdekaan, kita bisa lihat bagaimana para pemuda seperti Bung Karno, HOS Cokroaminoto, dan lain-lain mampu memimpin perundingan antar negara pada usia mudanya. Mereka menyerukan sumpah pemuda untuk mempersatukan bangsa. Tercatat dalam sejarah bagaimana geniusnya mereka memilih bahasa melayu yang egaliter sebagai bahasa persatuan.
Lantas mengapa kualitas generasi muda kita menurun?
Konsep remaja

Istilah remaja itu adalah istilah yang dikenal pada akhir abad 19. Sebelumnya tidak ada istilah itu. Dalam sebuah penelitian ilmiah pada suku-suku terasing di Samoa, Papua, Baduy dalam, ciri-ciri keremajaan itu tidak tampak pada masyarakat disana. Dalam dunia kedokteran hanya ada istilah Pedagogi untuk anak dan Andragogi untuk Dewasa. Tidak ada istilah remaja.

Remaja dalam fenomena sosial sekarang lebih merupakan tragedi. Sebuah generasi banci sosial, tidak produktif, bahkan konsumtif dan destruktif, bukan anak tapi belum dewasa.

Kalau anak minta duit, kita bilangnya “Kamu sudah besar, minta duit melulu”
Kalau anak minta kawin, kita bilangnya “Kamu masih kecil, sudah minta kawin”
Konsep remaja itu mendapat pembenaran ilmiah, sosial bahkan agama. Kita jadi mengenal istilah remaja mesjid. Di sini lemahnya science yang hanya bicara soal fakta. Jika dalam populasi ada 10% banci, maka kita akan menyebutkan bahwa jenis kelamin itu ada 3. Demikian juga dengan remaja, yang sebenarnya tidak ada.
Aqil Baligh dalam Islam

Islam mengenal istilah Aqil Baligh. Baligh adalah kedewasaan fisik, sedangkan Aqil adalah kedewasaan mental. Masalah terjadi ketika Baligh dan Aqil ini tidak sepaket. Baligh berhubungan dengan nutrisi. Para bunda over sukses dengan memberi nutrisi pada anak, sehingga kini  masa baligh bisa terjadi pada usia sangat dini seperti 9 tahun.

Sedangkan Aqil berhubungan dengan kedewasaan mental, yang menurut teori psikologi makin lama makin lambat munculnya. Kedewasaan mental kini muncul di usia 22-24 tahun. Di sinilah masalah muncul. Kita pun mengenal istilah remaja. Sudah Baligh tapi belum Aqil. Terciptalah periode transisional dalam rentang yang panjang. Dalam Al Quran juga disebutkan mengenai perlunya kita berlindung dari masa-masa transisi seperti ini.

Dalam Islam, Aqil dan Baligh disiapkan dalam 1 paket. Tidak bisa dipisah-pisah. Paling lambat usia 15 tahun Aqil dan Baligh itu sudah bisa tercapai. Bagaimana caranya? Siapa yang bertanggung-jawab meng-aqilbaligh-kan anak?

Perlu dipahami bahwa penanggung jawab utama pendidikan adalah ayah. Bukan bunda! Bunda adalah pelaksana pendidikan. Dalam sejumlah referensi islami ditemukan tokoh parenting yang terkenal adalah laki-laki.

 Ada nama Lukmanul Hakim, seorang budak berkulit hitam yang petuah-petuahnya untuk anak-anaknya menjadi referensi parenting hingga kini. Namanya bahkan diabadikan dalam Al Quran.
Saat ini, sebagai korban revolusi industri, para ayah menjadi sekedar buruh. Jangan berlindung dibalik kualitas, padahal kuantitas kurang. Tidak ada kualitas tanpa kuantitas yang cukup.

Bersama para pakar parenting lain, Bang Aad terpikir juga untuk menciptakan model ayah bekerja cukup dengan 4 jam sehari, sehingga memiliki waktu lebih untuk mendidik anak-anaknya. Tapi jangan juga jadi ayah yang serakah. “Kalau 4 jam saya dapat 30 juta, berarti dalam 8 jam bisa dapat 60 juta nih.”
Terkadang para Ayah pulang bawa gaji, “Ini uang bulan ini, cukup-cukupin ya.” Lantas petantang petenteng seolah bisa menjajah seisi rumah karena merasa pencari nafkah.

Salah satu masalah berat dalam rumah tangga adalah tanggung jawab pendidikan anak, bukan urusan cari uang. Makanya pikir matang-matang kalau mau berpoligami.

Tugas pengajaran bisa didelegasikan ke sekolah, namun tugas pendidikan tetap di rumah. Sekolah tidak bisa dijadikan tulang punggung pendidikan anak. Sekolah berasal dari bahasa latin Schole yang artinya waktu luang. Jadi dari sejarahnya, sekolah adalah sekedar kegiatan mengisi waktu luang disela-sela kegiatan utama mereka bermain menghabiskan masa anak-anak mereka. Kini sekolah menjadi salah kaprah dengan berubah sebagai kegiatan utama tempat orang tua buang anak. Sehingga orang tua-nya bisa tenang mencari uang untuk bayar sekolah. Sebuah ironi.

Jadikan dalam satu paket, cintai kebenaran dan benci pada kebatilan. Jangan dipisah-pisah.
Kenapa sholat rajin, buang sampah sembarangan juga rajin?
Kenapa puasa senin-kamis, zina juga senin kamis?
Ini karena kita sekedar melatih pembiasaan. Biasa sholat, biasa puasa, tapi tidak biasa buang sampah pada tempatnya.

Kita lebih mengutamakan ibadah dan ahlak, sementara akidah tertinggal dibelakang. Ibadah dan ahlak ini yang menjadi jualan sekolah-sekolah sekarang karena itu yang mudah terlihat dan terukur. Padahal yang penting itu akidah atau pondasinya. Namanya juga pondasi, sering tidak kelihatan pada awalnya.
Sekolah akan mengajarkan sholat, tapi tidak bisa bertanggung jawab untuk kedewasaan anak. Terkadang terasa ada yang aneh ketika mendengar komentar, “Tolong doakan anak saya yang baru lulus dan sudah hafizd Quran, semoga mendapatkan pekerjaan.”
Pendidikan kedewasaan itu memerlukan ikatan batin. Beda di elus oleh ibu dengan dielus oleh guru. Saat dielus ibu, antibodi si anak bekerja.
Allah menitipkan hikmah pada orang tua untuk anak-anaknya. Dan itu tidak bisa didelegasikan pada siapapun. Dengan harga berapapun.

Saya jadi ingin menambahkan status facebook keren Bang Aad, 1 Desembar 2015 lalu,
Dulu, saat anak-anak temannya telah bisa membaca AlQur'an ketika berusia 3 tahun, dia hanya berkisah pada anaknya tentang indahnya AlQur'an
Dulu, saat anak-anak temannya telah terlatih shalat ketika berusia 5 tahun, dia hanya bercerita pada anaknya betapa indahnya perintah Allah
Dulu, saat anak-anak temannya telah hafal hadits Arba'in ketika berusia 7 tahun, dia hanya berkisah pada anaknya tentang indahnya Rasulullah
Kini, saat teman-temannya berkeluh-kesah tentang anak-anaknya, dia asyik terpesona menyaksikan indahnya Islam pada diri ananda

Libatkan anak dalam masalah

Pria kelahiran 1964 ini pernah punya status viral mengenai menikah. Kalau kita masukkan nama Adriano Rusfi di Google, akan nongol tulisan ini.

“Saya baru punya mobil usia 42 tahun. Rumah baru punya 2 tahun lalu, sebelumnya ngontrak”, kata lulusan psikologi UI kelahiran tahun 1964 ini.
Dulu teman-temannya bilang, “Lu makanya yang fokus dong cari duit.”
Kalau sekarang teman-teman kagum dan bilang, “Lu bakatnya banyak banget sih?” Bang Aad sekarang bisa membalas “Mungkin dulu Lu kecepetan fokus sih.”
Generasi dewasa hijau perlu di gerakkan hatinya, jangan hanya otak. Akal sehat tidak identik dengan kecerdasan akademis. Perilaku hijau adalah perilaku perduli pada sesama.

Salah satu cara yang disampaikan Bang Aad adalah dengan tidak menyembunyikan masalah dari anak. Rem masa baligh anak dengan membantu orang tua menyelesaikan masalahnya.

Pada masa kecil Rasulullah ia adalah penggembala ternak. Beliau melatih empatinya dengan memelihara binatang. Saat ini kita bisa begitu alergi dengar kata ‘gembala’ atau bahkan ‘bunda’. Padahal sebenarnya arti gembala itu adalah memuliakan, memakmurkan.

Jadi kurang tepat juga ketika mengatakan, “Biar Ayah saja yang menderita, kamu belajar saja yang rajin.” Pria yang sempat mengurus Sistem kaderisasi Mesjid Salman dan Orientasi Mahasiswa Baru ITB ini menyebutkannya sebagai kalimat kurang ajar. Mengapa si ayah tidak mengijinkan anaknya mengikuti jalan suksesnya? Tidak ada sejarahnya orang sukses hanya dari gelimangan kemudahan.
“Supaya beban finansial saya cepat beres, saya fokus meng-aqilbaligh-kan anak”. Anak Bang Aad dari usia SMP sudah menjadi loper koran, membuka jasa servis tamiya, membantu scoring lembar psikotest. Sehingga anak jadi timbul empatinya.
Setiap permintaan akan dimulai dengan pertanyaan: “Abi ada duit nggak?”
Apapun yang anak minta harus 10% uang dia. Bang Aad cerita bagaimana anaknya ingin sepeda motor. “Bebas boleh pilih yang mana saja, asal 10% uang sendiri.” Anaknya jadi mikir juga. Yang 16 juta, harus ada 1,6 juta. Akhirnya si anak memilih yang 9 juta saja, karena merasa mampu menyediakan 10%-nya. Abi senang, anak senang.

Konglomerat Tionghoa itu sadis-sadis sama anaknya. Kalau anak mereka minta macam-macam, jawabnya “Sudah bagus Bapak kasih segitu.” Kita saja yang  Melayu ini suka memanjakan anak. Bang Aad sempat bercerita tentang tetangganya yang pengusaha kaya raya. Ketika hujan, ia memberikan payung buat anaknya supaya jadi ojek payung.
Ketika anak sudah memasuki usia aqil baligh, anak dikasih tahu. “Kamu ini sebenarnya sudah bisa Ayah suruh pindah, tapi sekarang masih boleh tinggal dirumah. Hanya statusnya numpang. Numpang makan, numpang tidur. Jadi tau diri lah sebagai penumpang. Baik-baik sama tuan rumah.”
Ajari anak cari uang, ajari anak berorganisasi. Libatkan anak dengan masalah. Anak mulai bisa diajarkan kemandirian saat usia diatas 7 tahun.

 “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Yakinlah setiap anak sudah terlahir muslim. Itu sudah fitrahnya. Didik anak dengan penuh optimis, tidak perlu rekayasa. Dan jangan lupa untuk meminta kepada Allah melengkapi kekurangan kita dalam mendidik anak-anak.

Sumber : http://shantybelajarmenulis.blogspot.co.id/2015/12/oleh-oleh-kuliah-umum-fitrah-based.html?m=1

Senin, 07 Desember 2015

SEHELAI RAMBUTMU LEBIH MULIA DARI JUBAH ULAMA


Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal RahimahuLLAH dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.

“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.
Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.”

Imam Ahmad RahimahuLLAH menyimak dengan serius penuturan ibu tadi. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.

Dia adalah seorang Ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.

Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual?

Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu?
Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”

Imam Ahmad RahimahuLLAH terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram.

Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.
Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad RahimahuLLAH bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?” Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”

Imam Ahmad RahimahuLLAH makin terkejut. Basyar Al-Hafi RahimahuLLAH adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yg tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.
Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad RahimahuLLAH berkata,

“Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para Ulama.

SubhanaLLAH, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara…”
Kemudian Imam Ahmad RahimahuLLAH melanjutkan, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau…”.

Diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, dari RasuluLLAH ShallaLLAHu 'Alayhi waSallam, Beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ

“Tidak akan masuk ke dalam Surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram.”
[Shahih Lighairihi, HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Ausath dan Al-Baihaqi, dan sebagian sanadnya hasan. Shahih At-Targhib 2/150 no. 1730]

Wahai Diri !!!!
Jangan Cari Kekayaan, Carilah Keberkahan. Bagikan nikmat ALLAH yg kau terima kpd saudara, kerabat, tetangga,teman dan yang lain... disitulah keberkahan...

Semoga Bermanfaat..

Disalin dari pesan viral whatsapp

Sabtu, 17 Januari 2015

Qaulan Sadiidaa untuk Anak Kita

Qaulan Sadiidaa untuk Anak Kita 
Oleh: Salim A. Fillah

Pict by https://rachmisanti12.wordpress.com/


REMAJA

Pernah saya menelusur, adakah kata itu dalam peristilahan agama kita?
Ternyata jawabnya tidak. Kita selama ini menggunakan istilah ‘remaja’ untuk menandai suatu masa dalam perkembangan manusia. Di sana terjadi guncangan, pencarian jatidiri, dan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terhadap masa-masa itu, orang memberi permakluman atas berbagai perilaku sang remaja. Kata kita, “Wajar lah masih remaja!”
 Jika tak berkait dengan taklif agama, mungkin permakluman itu tak jadi perkara. Masalahnya, bukankah ‘aqil dan baligh menandai batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis ‘amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap perintah dan larangan, juga wajib, mubah, dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan manisnya istilah remaja. Begitu penanda baligh muncul, maka dia bertanggungjawab penuh atas segala perbuatannya; ‘amal shalihnya berpahala, ‘amal salahnya berdosa.

Isma’il ‘alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang, mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan terbentuk karakternya sejak mula.
 Mengapa? Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:
Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan keturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar. (QS.An Nisaa’ 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.
Nah, mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai qaulan sadiidaa, kata-kata yang lurus benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat kesembilan Surat An Nisaa’? Ataukah selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip “asal tidak menangis”. Padahal baik agama, ilmu jiwa, juga ilmu perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting.

Kali ini, izinkan saya secara acak memungut contoh misal pola asuh yang perlu kita tata ulang redaksionalnya. Misalnya ketika anak tak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal si orangtua harus menghadiri acara yang tidak memungkinkan untuk mengajak sang putera. Jika kitalah sang orangtua, apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa menyakiti dan mengecewakan buah hati kita?
Saya melihat, kebanyakan kita terjebak prinsip “asal tidak menangis” tadi dalam hal ini. Kita menyangka tidak menangis berarti buah hati kita “tidak apa-apa”, “tidak keberatan”, dan “nanti juga lupa.” Betulkah demikian? Agar anak tak menangis saat ditinggal pergi, biasanya anak diselimur, dilenabuaikan oleh pembantu, nenek, atau bibinya dengan diajak melihat –umpamanya- ayam, “Yuk, kita lihat ayam yuk.. Tu ayamnya lagi mau makan tu!” Ya, anak pun tertarik, ikut menonton sang ayam. Lalu diam-diam kita pergi meninggalkannya.
Si kecil memang tidak menangis. Dia diam dan seolah suka-suka saja. Tapi di dalam jiwanya, ia telah menyimpan sebuah pelajaran, “Ooh.. Aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut Ibu tapi malah disuruh lihat ayam, agar bisa ditinggal pergi diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah besar aku yang akan melakukannya!”
Betapa, meskipun dia menangis, alangkah lebih baiknya kita berpamitan baik-baik padanya. Kita bisa mencium keningnya penuh kasih, mendoakan keberkahan di telinganya, dan berjanji akan segera pulang setelah urusan selesai insyaallah. Meski menangis, anak kita akan belajar bahwa kita pamit baik-baik, mendoakannya , tetap menyayanginya, dan akan segera pulang untuknya. Meski menangis, dia telah mendengar qaulan sadiida, dan kelak semoga ini menjadi pilar kekokohan akhlaqnya.

Di waktu lain, anak yang kita sayangi ini terjatuh. Apa yang kita katakan padanya saat jatuhnya? Ada beberapa alternatif. Kita bisa saja mengatakan, “Tuh kan, sudah dibilangin jangan lari-lari! Jatuh bener kan?!” Apa manfaatnya? Membuat kita sebagai orangtua merasa tercuci tangan dari salah dan alpa. sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu menyalahkan dirinya sepanjang hidupnya.
Atau bisa saja kita katakan, “Aduh, batunya nakal yah! Iih, batunya jahat deh, bikin adek jatuh ya Sayang?” Dan bisa saja anak kita kelak tumbuh sebagai orang yang pandai menyusun alasan kegagalan dengan mempersalahkan pihak lain. Di kelas sepuluh SMA, saat kita tanya, “Mengapa nilai Matematikamu cuma 6 Mas?” Dia tangkas menjawab, “Habis gurunya killer sih Ma. Lagian, kalau ngajar nggak jelas gitu.”
Atau bisa saja kita katakan, “Sini Sayang! Nggak apa-apa! Nggak sakit kok! Duh, anak Mama nggak usah nangis! Nggak apa-apa! Tu, cuma kayak gitu, nggak sakit kan?” Sebenarnya maksudnya mungkin bagus: agar anak jadi tangguh, tidak cengeng. Tapi sadarkah bahwa bisa saja anak kita sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa? Dan kata-kata kita, telah membuatnya mengambil pelajaran; jika melihat penderitaan, katakan saja “Ah, cuma kayak gitu! Belum seberapa! Nggak apa-apa!” Celakanya, bagaimana jika kalimat ini kelak dia arahkan pada kita, orangtunya, di saat umur kita sudah uzur dan kita sakit-sakitan? “Nggak apa-apa Bu, cuma kayak gitu. Jangan nangis ah, sudah tua, malu kan?” Akankah kita ‘kutuk’ dia sebagai anak durhaka, padahal dia hanya meneladani kita yang dulu mendurhakainya saat kecil?

Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. Seperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, “Anak shalih masuk surga.. Anak nakal masuk neraka..” Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi penghuni surga. Juga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan –baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, “Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!”
Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah yakni, “Yang Maha Tidak Suka!” Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak boleh, itu nggak benar.
Alangkah agungnya qaulan sadiida. Dengan qaulan sadiida, sedikit perbedaan bisa membuat segalanya jauh lebih cerah. Inilah kisah tentang dua anak penyuka minum susu. Anak yang satu, sering dibangunkan dari tidur malas-malasannya oleh sang ibu dengan kalimat, “Nak, cepat bangun! Nanti kalau bangun Ibu bikinkan susu deh!” Saat si anak bangun dan mengucek matanya, dia berteriak, “Mana susunya!” Dari kejauhan terdengar adukan sendok pada gelas. “Iya. Sabar sebentaar!” Dan sang ibupun tergopoh-gopoh membawakan segelas susu untuk si anak yang cemberut berat.
Sementara ibu dari anak yang satunya lagi mengambil urutan kerja berbeda. Sang ibu mengatakan begini, “Nak, bangun Nak. Di meja belajar sudah Ibu siapkan susu untukmu!” Si anakpun bangun, tersenyum, dan mengucap terimakasih pada sang ibu.
Ibu pertama dan kedua sama capeknya; sama-sama harus membuat susu, sama-sama harus berjuang membangunkan sang putera. Tapi anak yang awal tumbuh sebagai si suka pamrih yang digerakkan dengan janji, dan takkan tergerak oleh hal yang jika dihitung-hitung tak bermanfaat nyata baginya. Anak kedua tumbuh menjadi sosok ikhlas penuh etos. Dia belajar pada ibunya yang tulus; tak suka berjanji, tapi selalu sudah menyediakan segelas susu ketika membangunkannya.

Ya Allah, kami tahu, rumahtangga Islami adalah langkah kedua dan pilar utama dari da’wah yang kami citakan untuk mengubah wajah bumi. Ya Allah maka jangan Kau biarkan kami tertipu oleh kekerdilan jiwa kami, hingga menganggap kecil urusan ini. Ya Allah maka bukakanlah kemudahan bagi kami untuk menata da’wah ini dari pribadi kami, keluarga kami, masyarakat kami, negeri kami, hingga kami menjadi guru semesta sejati.

Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak shalih yang kokoh imannya dan mulia akhlaqnya, seperti Isma’il. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata. Aamiin. Sepenuh cinta.

Senin, 09 September 2013

Apa kabar bulan ini.....?

Dua bulan sudah Ummi tidak menulis di sini, sementara masih berupa list poin-poin yang mau ditulis tentang mereka. Maafkan Ummi, Nak...^.^



Baiklah akan Ummi tulis poin terakhir dari prestasi kalian di beberapa hari terakhir.

Kehadiran dede' baru di rahim Ummi alhamdulillah mendapatkan sambutan hangat dari semuanya, terutama si bungsu Yumna, ia dan kakaknya Nayla kerap kali membicarakan adik "barunya" sambil mengelus perut Ummi, kebahagiaan terpancar dari ucapannya, seiring denganmudahnya mereka dikondisikan untuk lebih hati-hati saat berada di dekat Ummi, tidak menjatuhkan kaki dan badan secara keras, tidak menendang dan sebagainya. Mereka tampak bahagia saat membicarakan sapaan-sapaan baru, Yumna akan dipanggil mbak karena sudah punya adik, Nayla akan punya dua orang adik, duh...sepertinya mereka tak sabar menantikan saat-saat itu, dan begitu faham ketika Ummi sampaikan, masih lama ya...

Kondisi-kondisi memudahkan begitu terasa juga dari anak-anak yang lain. Ketika dalam satu bulan ini Ummi mengalami sedikit perdarahan (vlek) Alhamdulillah mereka cukup bisa di ajak kerja sama, dapat tambahan pekerjaan pagi, menjaga adik saat Abi harus mengantar Ummi keluar dan yang terakhir ingin Ummi review adalah aktivitas Ahad lalu. Agenda kami saat itu adalah Taskif bersama di kantor DPD PKS. Biasanya saat kegiatan seperti ini anak-anak yang sekarang sudah besar, dulu saat usia balita selalu kami ajak. Hampir di setiap acara, samapai anak ketiga selalu turut hadir. Untuk hari tersebut Ummi merasa perlu mempertimbangkan, kerena sepekan sebelumnya memang mengalami vlek itu, Ummi ingat beberapa bulan lalu ketika Abi kerja keluar dan Ummi harus keluar untuk kegiatan pekanan anak-anak kecil kami titipkan ke anak-anak besar Alhamdulillah selalu sukses. "Kayaknya ini ditinggal saja, Bi," kata Ummi, tampaknya Abi tidak tega. Sejak Shubuh mereka Ummi kondisikan. Fahri (6,5th), Nayla (4,5th) dan Yumna (2,5th) cukup mudahmenerima berita itu, mereka cepat mengiyakan, meski  beberapa waktu setelahnya Yumna agak merengek minta ikut, tapi karena Nyala terlihat siap untuk ditinggal maka menjadi mudah untuk memberinya pengertia. Fahri dan 'Abdan (10th) tidak masalah, hanya Fathin (12th) yang tampak agak keberatan dan bisa segera mengerti saat difahamkan kalau Ummi tidak boleh terlalu capek. 

Alhamdulillah keberangkatan diantarkan dengan senyum tulus anak-anak balita. Tidak lama sih, paling-paling acara hanya 4 jam, tapi ada haru juga meninggalkan mereka dengan begitu tulus begitu. Subhanallah...Allah memudahkan langkah-langkah ini.

Sesampai di rumah Alhamdulillah kami disambut dengan kabar baik, tidak ada yang menangis dan semua baik-baik saja (meski yang kecil pada gak mau mandi ^^). Alhamdulillah...alhamdulillah...lega rasanya. Dan ternyata saat kami pulang si sulung sedang tidak di rumah, kabarnya dia sedang pergi futsal bersama teman-teman, itu berarti hanya 'Abdan seorang yang menjaga tidak anak kecil sejak pagi itu. Subhanallah...bocah 10 tahun itu memang terkadang tampil galak, tapi dia sanggup memikul tugas dan tanggung jawab yang cukup berat dengan ringannya, alhamdulillah Rabb. Semoga kami senantiasa bisa mensyukuri karunia-Mu ini, dan melakukan yang terbaik atas amanah yang Engkau embankan, aamiin... 

Selasa, 04 Juni 2013

Yang Berat Ini Semoga Penuh Berkah

Mulai terasa, mau dibilang mudah sebenarnya sih bisa, tapi inilah fakta, upaya mendekatkan diri dengan Al-Qur'an, mendekat sedekat-dekatnya, banyak berinteraksi dengannya, menjadikannya hal terpenting diantara yang penting, dan merasakan kenikmatan saat bercengkerama dengannya ternyata bukanlah hal mudah, berat, setidaknya itu yang sedang kami rasakan.


Mungkin kami masih sangat minim dalam ilmu, mungkin kami masih sangat lemah dalam bersungguh, mungkin kami masih kurang dalam berlatih. Yah, bisa jadi itu semua menjadi salah satu penyebab, yang jelas sebab-sebab itu ada karena kelemahan diri kami. Tak ada lagi yang bisa kami harapkan selain kemurahan, kasih sayang dan berkah Alloh SWT, untuk kami semua.

Semoga Alloh SWT memberkahi upaya kalian pagi ini untuk kembali menikmati indahnya ayat-ayat Alloh.  Fathin, 'Abdan, Fahri, kami yakin Alloh Maha Melihat . Setelah kelelahan-kelelahan yang kalian rasakan, juga  kejemuan-kejemuan itu semoga hanya menjadi bumbu saja di antara lezatnya kenikmatan yang Alloh janjikan. Ummi dan Abi senantiasa memohon kepada Alloh agar diberikan kekuatan untuk selalu dan selalu mememperbaiki diri, memohon kepada Alloh akan rahmat-Nya untuk kita semua, untuk bisa membimbing kalian menuju cahaya itu. Ummi dan Abi senantiasa memohon agar kelemahan-kelemahan kami tidak menjadi penghalang bagi cahaya yang Alloh pancarkan untuk kalian. 

Ya Alloh, dengan Al-Qur'an, karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada kami. Jadikan Al-Qur'an sebagai cahaya, hidayah dan sumber rahmat bagi kami.

Ya Alloh, ingatkan kami bila ada ayat yang kami lupa mengingatnya. Ajarkan pada kami, ayat yang kami bodoh memahaminya. Karuniakan pada kami kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Al-Qur'an bagi kami sebagai hujjah, ya Robbal 'Aalamiin.


Jumat, 03 Mei 2013

Fahri, Bisa Mengimami Sholat Adik-Adik Dengan Bacaan Surat Yang Fashih


si kuat yang lembut hatinya, hafidz insyaAlloh
Mengimami, ya mengimami, mengambil keputusan yang cepat tentang surat yang dibaca dan melafadzkannya dengan cukup fashih. Subhaanalloh, benar-benar pandangan yang menyejukkan mata. Dalam menghafal pun cukup menakjubkan, karena engkau bisa menghafal dengan cepat, mungkin karena sering dengar hafalan Ummi, Abi dan akak-kakakmu. Bacaanmu yang fashih membuat Ummi sangat senang saat mengajarimu membaca Al-Qur’an, lidah dan mulutmu sangat mudah menirukan fashohah yang Ummi ajarkan, subhaanalloh. Dan ketika Ummi adakan lomba menghafal antar 3 anak laki2 ini engkaulah pemenangnya karena engkau lebih lancar melafadzkan surat yang engkau ambil untuk dihafal dibanding kakak-kakakmu, meski demikian sesungguhnya kakak-kakakmu juga juara, karena saat ini mereka juga sedang bersungguh menghafalkan Al-Qur’an.

Menjelang usia ke-6 ini Ummi dan Abi juga engkau buat takjub, tiada yang pantas dipuji selain Alloh. Belum juga Ummi siap mengajarkan step demi step metode cara membaca menggunakan metode fonik yang sedikit banyak sudah Ummi fahami, baru sampai huruf a kayaknya, e… dengna tiba-tiba (Ummi yang kurang perhatian kali ^^), engkau bisa membaca beberapa kata di sebuah buku. Lalu Ummi dan Abi coba di kata yang lain, engkau juga bisa meski masih terbata-bata. Bahkan untuk kata-kata yang mengandung huruf mati, diftong, sekali diajari engkau segera bisa. Sejak itu sering engkau tiba-tiba berdiam saat melihat selintas sebuah tulisan, bahkan ketika nonton film yang ada terjemahnya (bahasa Indonesia) engkau klik tombol paus untuk membaca tulisannya. Subhalalloh, luar biasa, Alloh telah mengajarakan manusia dengan perantaraan kalam.  Sekarang yang menjadi tugas ummi adalah sebanyak-banyaknya membuat kegiatan membaca menjadi kegiatan menarik, sehingga potensimu untuk bisa meraup lautan ilmu sejak dini bisa segera terpenuhi. Jangan sampai kesempatan ini terlewatkan, dan jangan sampai ketakjuban ummi atas kemampuan mambacamu yang luar biasa ini menjadi sesuatu yang memprihatinkan karena engkau bisa tapi tidak gemar membaca, semoga tidak sampai sepert itu.

Begitupun dengan kegiatan berhitung, engkau begitu mudah mempelajarinya. Konsep-konsep matematika begitu mudah engkau serap. Semoga ini menjadi bekal yang menguatkan proses belajarmu kedepan. 

Begitulah Fahri, meski kadang-kadang suka jahil dan nagisnya kencang tapi sebenarnya hatinya sangat lembut. Sepertinya tepat sekali jika Ummi dan Abi menamakanmu si kuat seperti Nabi Daud dan si lembut hati.

Semoga Ummi dan Abi berkesempatan mengantarkanmu menjadi lelaki sholihah yang dirindukan surga, aamiin.


Kamis, 02 Mei 2013

Nayla 4 Tahun, Subhanalloh... Si Cantik Yang Pintar

Si Cantik calon Hafidzoh

Satu momen yang insyaAlloh tidak akan engkau lupakan menjelang usia  4 tahun mu adalah ketika engkau ingin makan es krim, lalu Ummi mengajakmu untuk terus berdo’a, memintanya pada Alloh, engkau pun menurutinya, dan Alhamdulillah sekitar satu pekan berdo’a Alloh mengabulkannya. Saat berdo’a Ummi selalu mengatakan, bisa saja Alloh memberikan es krim pada mbak Nayla, bisa lewat tangannya Ummi, bisa lewat tangannya Abi, bisa lewat tangannya mbah Ti, mbah Kung atau siapa saja. Ummi sudah hampir bersungguh untuk menyisihkan uang demi membuktikan bahwa do’amu memang didengar dan dikabulkan Alloh, Alhamdulillah rezeki tak disangka datang, tiba-tiba saja engkau bersama de’ Yumna dan Mas Fahri dapat sangu dari relasi kerja ummi, pak Ucit-Lundry. Subhanalloh… do’amu benar-benar terkabul, nak.

Engkau seorang gadis cilik yang cantik dan pintar, tak ingin Ummi melewatkan  saat-saat berhargamu ini, ingin kutanam sebanyak-banyaknya benih kebaikan dan cinta-Nya, hingga tumbuh dalam sanubarimu dan menjadi penghias indah taman hatimu. Engkau sudah pandai menghafal Al-Qur’an hanya karena mendengar kakak-kakakmu menghafal, engkau juga sudah bisa belajar membaca buku Ummi dengan senang, meski ini belum bisa teratur, Ummi ingin mencari metode paling menyenangkan untuk mengajarimu menghafal dan membaca Al-Qur’an.

Egkau juga sangat pandai bermain peran, bersama de’ Yumna dan mas Fahri engkau memainkan peran apa saja. Oh iya engkau adalah satu-satunya anak ummi yang tergores jeruji kakimu saat masih berusia 3 tahun, Alhamdulillah Alloh menunjukkan kembali tanda-tanda kekuasaan-Nya, kakimu sembuh tanp obat, Ummi dan Abi mencoba meyakini janji Alloh bahwa ia telah menciptakan manusia lengkap dengan anti bodinya, kakimu sembuh dengan dibersihkan setiap hari, diganti perban dan di tetesi betadin, itu saja. Memang Alloh tak pernah menyalahi janji.

Badanmu yang gemuk sehat juga membuat Ummi Abi senantiasa bersyukur, karena saat bayi badanmu termasuk kecil… subhanalloh setelah Ummi susui kembali bareng de’ Yumna selama kurang lebih 3 bulan badanmu berangsur  membesar, gemuk sedang, cukupan ya, dan sehat, alhamdulillah.

Yang agak sulit dikendalikan adalah saat marah, agak sensi. Semoga Alloh berkenan memberikan petunjuk dan kekuatan untuk mengantarkanmu menjadi wanita sholihah yang dirindukan surga. Saat ini hafalanmu sudah memasuki surat At-Takatsur. Subahanalloh.

Rabu, 01 Mei 2013

Yumna, Menakjubkan dan Penuh Cinta

imut dan penuh cinta, insyaAlloh Hafidzah juga ya...
2 tahun usiamu...

Kemarin sepulang Ummi dari mengaji dan mengajar tahsin, Fathin, 'Abdan dan Fahri melaporkan bahwa mereka telah menyiapkan kejutan untuk ulang tahun Yumna hari ini. Kamarnya ditata. Mereka juga menyiapkan hadiah untuk Yumna yang dibungkus rapi. Hmmm... Kakak-kakak mu penuh cinta ndhuk.... Meski pada akhirnya Ummi harus menjelaskan - tanpa mengurangi penghargaan untuk mereka yang telah memberikan perhatian luar biasa untuk adik bungsunya - tentang tidak perlunya kita merayakan ulang tahun, alhamdulillah mereka cukup faham, kita cari peringatan lain sebagai tanda rasa syukur ya.

Yumna, menakjubkan dan penuh cinta

Kau kerap kali membuat ummi bertasbih, subhaanalloh.  Sungguh luar biasa, tiada yang pantas dipuji selain penciptamu. Di usia mu yang masih sangat kecil, sekitar satu tahun kalau tidak salah, engkau sudah pandai mengucapkan beberapa kata dengan fasih, terutama kata Kakak, Ummi dan Abi. Di usia yang sama saudara-saudaramu masih agak cedal mengucapkannya. Sekarang-sekarang ini kau juga sudah biasa menyanyikan 2 buah lagu secara lengkap, Satu-satu Aku Sayang Ibu dan Tik-tik Bunyi Hujan. Lebih menakjubkan lagi kau juga bisa bertahan saat ikut sholat dari rakaat pertama sampai rakaat terakhir dengan gerakan-gerakan yang hampir tepat. Saat kau menyatakan ingin punya sepeda seperti milik Mas Fino sebelah rumah maka ini kesempatan bagi ummi untuk menanamkan sebuah ketergantunganmu pada pertolongan-Nya. Ummi ajak engkau berdo’a untuk memintanya pada Alloh. Ummi harus menggunakan kesempatan ini karena ummi lihat engkau amat kuat dalam mengingat. Banyak sekali hal-hal kecil yang engkau ingat dan engkau ceritakan kembali di kemudian hari, subhaanalloh.

Dan yang lebih menakjubkan lagi  adalah bahwa egkau telah bisa mengucapkan kata “Aku cinta Ummi karena Alloh,” “ Aku sayang Abi karena Alloh,”  dengan sangat sering. Mimik wajahmu begitu menyejukkan saat mengucapkannya. Ya sih mungkin ini pengaruh film “hafalan Sholat DELISA” yang sering kau tonton, tapi yang membuat ummi takjub adalah mimik wajahmu yang begitu teduh saat mengucapkannya, di usia yang masih sangat kecil… Mungkin karena kami selalu antusias saat kau mengucapkannya, maka engkau suka. Wallohu a’lam.

Engkau juga sudah pandai main peran, mau jadi ibu, maujadi anak, mau jadi adik engkau bisa perankan dengan bagus. Engkau juga sudah bisa bilang PKS hanya karena melihat papan nama PKS yang ada di ruang depan setelah sekali diberitahu namanya. Kau juga paling kecil mengenal dan bisa mengucapkan kata Liqo’ dan Halaqoh, mungkin karena kau tahu kakak, mas, ummi dan abi punya aktivitas itu. Itu sebabnya saat ini ummi ingin sekali mengajarimu banyak2 hafalan Al-Qur’an, meski sepertinya tidak secepat menghafal lagu tapi ummi tidak menyerah, ingin… sekali cari metode paling pas buatmu, semoga Alloh berkenan memberikan petunjuk dan kemudahan.

Untuk proses toilet trainingmu hampir sama dengan mbak Nayla, cukup cepat dan bagus. Dalam waktu 3 minggu hampir sudah tidak pernah ngompol. Waktu yang kau butuhkan untuk benar-benar bisa menguasai BAK dan BAB sekitar 3 minggu, awalnya engkau bingung, tidak bisa keluar saat pipis, tapi nagis, lalu bisa keluar tapi sambil berdiri, lama kelamaan bisa pipis sambil jongkok. BAB juga begitu, tidak bisa keluar kalau jongkok, sehingga kadang keluar sebagai axcident atau keluar sambil berdiri dan menangis, akhirnya BAB tidak bisa banyak. Alhamdulillah saat 3 minggu engkau sudah bisa BAB  sambil jongkok dan lancar. Subhaanalloh…

Tidak lengkap kiranya bila banyak kelebihan tanpa menuliskan kekurangan. Yang ada padamu adalah engkau paling sulit didiamkan saat menangis, ga bisa dislimur. Apalagi saat disapih, kalau kakak-kakakmu sangat mudah dikendalikan di malam hari engkau agak sulit, saat ini masih sering nangis di malam hari, dan jika didekatkan pada ASI untuk diajak ngomong engkau bisa diam. Gigimu adalah yang paling dini keroposnya, kakak-kakakmu tidak ada yang giginya keropos di usia kecil begini, engkau sduah tidak punya taring di usia 2 tahun. Dan yang jelas cuma engkau yang pernah opname di rumah sakit, namum alhamdulillah semoga terus dalam keadaan sehat dan cerdas.

Berikanlah kesempatan ummi bisa mendampingimu sampai engkau menjadi wanita sholihah yang dirindukan surga, aamiin.

Selasa, 30 April 2013

Membangun Gairah Menghafal

One day one ayat

Sebuah kata yang sedang populer saat ini, tapi apakah menjalaninya bisa semudah mengucapkannya? Bila tidak, mari kita tengok tulisan berikut


Membangun Gairah Menghafal

Ustadz, bagaimana membangun gairah menghafal baik untuk diri pribadi maupun untuk orang lain?

Fulan

Jawaban : Satiap kita, ketika ingin mengerjakan suatu aktifitas, pasti sebelumnya sudah mengetahui akan nilai atau keuntungan yang akan diperoleh setelah melakukannya. Oleh karenanya, ….

Rasulullah SAW selalu membuat semangat siapapun yang mendengar akan nasihat yang telah disampaikan beliau kepada para sahabatnya. Dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan pertanyaan anda tentang gairah menghafal Al-Quran atau lebih tepatnya adalah membangun motivasi untuk bisa, giat dan gemar menghafal Al-Quran. Baik untuk diri sendiri atau pun untuk orang lain.

Diantara nasihat beliau tersebut adalah :

“sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Quran”.

“Orang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para utusan yang mulia, dan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan dia merasakan kesulitan, makan baginya dua pahala". Yaitu pahala membaca dan pahala karena kesulitannya saat membaca, dan ini hanya ada saat orang membaca Al-Quran, oleh karena para sahabat RA memiliki perhatian yang begitu besar terhadap pembelajaran Al-Quran, sehingga mereka gemar dan rajin belajar dari Rasulullah SAW dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

Banyak kaum muslimin, khususnya para du’at atau orang terlibat dalam aktifitas dakwah, mereka sudah paham benar urgensi mempelajari Al-Quran secara mendalam, lebih khusus lagi menghafal Al-Quran, betapa mulianya kedudukan mereka di sis Allah SWT. Namun tidak sedikit dari mereka terjebak pada sikap menunda-nunda pekerjaan yang sangat mulia di sisi Allah ini, bahkan banyak ide-ide cemerlang yang terlintas dalam benak, namun hilang begitu saja karena sikap penundaan tersebut. Diantara sebab penundaan dalam menghafal adalah :

1- Merasa bahwa menghafal itu adalah pekerjaan susah dan menjenuhkan.

2- Bacaan Al-Quran yang belum standar tingkat kefasihannya.

3- Belum saatnya untuk menghafal.

4- Saat mau menghafal kondisi badan kurang baik.

5- Sudah banyak orang yang menghafal Al-Quran.

6- Tidak tau dari mana mulai menghafal.

7- Saat ini belum ada keinginan untuk menghafal.

8- Saat ini banyak sekali kesibukan.

9- Sedang dead line dengan tugas-tugas kuliah atau kantor dll.

10- Saat ini waktunya kurang tepat untuk menghafal.

11- Acara televisi dengan tema yang hangat saat ini.

Demikian, barangkali yang kita sebutkan adalah sebagian kecil kenapa diantara kita masih menunda-nunda menghafal Al-Quran dengan ribuan lembar alasan yang sudah kita siapkan di saku kita untuk pegangan agar menjadi alasan tidak mau menghafal Al-Quran.

Oleh karena, diantara yang harus dilakukan oleh orang yang sudah punya azam kuat untuk menghafal adalah :

1- Harus merubah sifat menunda untuk menghafal Al-Quran.

2- Buat rencana dan target-target tertentu.

3- Jangan takut gagal, yang diperlukan adalah mencoba dan proses harus tetap dijalankan.

4- Tinggalkan sifat riya dan sum’ah, lawan bisikan setan di dada kita.

5- Mengalahkan rasa takut adalah bagian dari kesuksesan, seperti takut lupa dan merasa riya setelah hafal al-Quran.

6- Tingkatkan kadar ketakwaan agar Allah selalu membimbing dan mengajarkan yang terbaik.

7- Yakin, bahwa menghafal Al-Quran itu mudah sebagaimana penegasan Allah dalam Al-Quran.

8- Tawakkal kepada Allah, ikhlaskan niat hanya untuknya dan yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan untuk bisa menghafal kitab-Nya.

Semoga terus semangat untuk menghafal Al-Quran...

wallahu a'lam

Ust.Taufik Hamim,Lc

Minggu, 28 April 2013

Jika Orang Tua Menginginkan Anak Penghafal Al Qur’an | Bersama Dakwah

Jika Orang Tua Menginginkan Anak Penghafal Al Qur’an
Diposkan oleh Gresia Divi pada Sabtu, 30 Maret 2013 | 07.00 WIB


إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya..”
(QS. Al Hijr : 9)

Sudah merupakan janji Allah, bahwa Al Qur'an akan dipelihara Allah, diantaranya, di dada orang-orang muslim. Begitu banyak bukti, begitu banyak kisah tentang para penghafal Al Qur'an dari mulai zaman Rasulullah hingga kini. Dari berbagai macam warna kulit, ras, dan bangsa, semuanya ada yang menjadi penghafal Al Qur'an.

Begitu pun saat ini, di mana menghafal Al Qur'an menjadi trend. Banyak orang mau menghafal Al Qur’an. Banyak pula para orang tua yang berlomba-lomba memasukkan anaknya di sekolah-sekolah penghafal Al Qur'an. Tapi tidak sedikit juga orang yang mengatakan, “Apakah aku bisa menghafal Al Qur'an? Apakah aku bisa membuat anak-anakku menjadi penghafal Al Qur'an?” Kalau semua orang berazzam mau menghafal Al qur'an, pertanyaannya apakah semua orang mau menjalani prosesnya, proses sebagai orang tua bagi anak-anak penghafal Al Qur'an.

“Semua itu ada prosesnya, dan proses bagi orang tua yang anaknya penghafal Al Qur'an itu prosesnya luar biasa. Allah tidak akan memberi pahala yang besar kecuali liku-likunya juga luar biasa”, tutur Dr. Sarmini, pendiri Pesantren Utrujah, dalam sharing bersamanya di TK Islam Terpadu Al'Ibrah (28/3).

Bagaimana liku-likunya orang menjadi syahid tidak serta merta tanpa bantuan Allah pula. Seperti sahabat Khalid bin Walid yang mengharap syahid tapi meninggal di tempat tidur walau insya Allah mendapat pahalanya. Allah sudah menjanjikan 70 syafaat yang diberikan untuk keluarganya bagi mereka yang mati syahid. Sedangkan, bagi mereka yang penghafal Al Qura'an 40 syafaat.

Jika para orang tua memasrahkan begitu saja anak-anak mereka pada sekolah tanpa mendampinginya di rumah dengan menjaga muroja'ah dan mengkondisikan lingkungan anak dengan Al Qur'an serta bagaimana visi misi keluarga tersebut, tentu sangat bertentangan. Apakah mau jika hanya sekolah yang mendapat pahala. Hal ini dapat dilakukan dengan mengaitkan segala aktivitas dengan Al Qur'an. Sebagai contoh, anak-anak diajak untuk melihat wisudawan-wisudawati yang ada di Gaza agar mereka tahu bahwa yang mereka lakukan juga dilakukan oleh banyak anak di berbagai belahan dunia.

Kita punya tujuan lebih jauh yaitu menjayakan Al Qur'an. Jaya di atas generasi anak-anak kita. Jika generasi kita tidak layak, tidak loyal, maka Allah akan menggantikan dengan umat yang lebih loyal, lebih baik. “Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. Kita ingin memantaskan di hadapan Allah, ‘Ya Allah, ini anakku siap’. Tentu kita harus memadankan, melayakkan, memantaskan di hadapan Allah”, imbuh beliau. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan keluarga-keluarga Qur'ani.

Bagaimana kita membangun kampung kita agar seperti yang ada di Gaza, kampung 0% buta huruf Al Qur'an. Ini harus menjadi agenda utama kita daripada 0% buta huruf bahasa Indonesia. Barangsiapa yang berkonsentrasi dan disibukkan oleh urusan Allah tanpa meminta urusan dunia, Allah akan memberikan urusan dunia itu tanpa diminta. Barangsiapa yang hanya mengurusi dunia, akan disulitkan. Contohnya, sholat Dhuha. Sering kali kita lupa bahwa yang menjadikan lancar bukan shalatnya tetapi Allah. Begitu pula dengan menghafal Al Qur'an, harus jelas kita sampaikan kepada anak-anak, mengapa harus menghafal Al Qur'an agar mereka bangga menghafal Al Qur'an. Kita harus mau membayar harganya. Jika anak berhasil sekian juz apa kita mau mendampinginya di rumah karena menjadi keluarga penghafal Al Qur'an luar biasa tantangannya tapi luar biasa berkahnya, banyak indahnya. Betapa waktu sangat berkah karena tidak sempat melakukan hal yang remeh temeh tidak ada gunanya.

Saat Dr. Sumarni bertanya ke salah seorang anak yang menghafal Al Qur'an apa ada kesulitan memahami pelajaran lain, ternyata tidak. Bahkan justru itu yang membuat anak konsentrasi, stabil, dan beradab. Anak lebih mudah diberi tahu. Dengan menghafal Al Qur'an, luar biasa kestabilan emosi anak. Beberapa anak yang masih terpaksa tidak perlu dipaksa. Biarlah berjalan alami saja karena biasanya jika sudah menambah hafalan, mereka akan merasa cinta dengan sendirinya. Anak dengan mental seperti itu sangat mudah untuk diberi pengertian.

Bukan hanya tentang metode yang menyenangkan yang mana yang kita pilihkaan untuk anak-anak, akan tetapi lebih pada bagaimana menanamkan ke mereka bahwa menghafal Al Qur'an itu yang mereka perlukan dalam hidup mereka. Mengapa hal ini dilakukan, tidak lain agar anak memiliki kemandirian, rasa ingin menghafal dan itu yang harus dicanangkan. Jadi, jika para orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi luar biasa sebagai penghafal Al Qur'an, mereka harus mau menjalani proses yang luar biasa pula. [Gresia Divi]

Sumber :
Jika Orang Tua Menginginkan Anak Penghafal Al Qur’an | Bersama Dakwah