Minggu, 23 Oktober 2011

Prakarya "Robot Kabel" dari Bahan Bekas

Ketika kusampaikan tentang lomba membuat Prakarya dari Bahan Daur Ulang/Bahan Bekas, 'Abdan yang memang sedang memainkan 'Robot Kabel' nya segera menyambut tawaranku dengan antusias. Segera saja kuminta ia mengulangi pembuatan mainan sederhananya itu. Kemudian kuambil gambarnya dan siap untuk didokumentasikan.



'Robot Kabel' -nama pilihan 'Abdan sendiri- ini ia temukan berawal dari kegiatannya mengikuti Fathin, sang kakak membongkar-bongkar keyboard bekas. 'Abdan menemukan potongan kabel dari bongkar-bongkarnya itu. Lipat sana, lipat sini, terbentuk setengah jadi sebuah orang-orangan tanpa tangan. Ketika kutawari untuk ikut lomba kusarankan ia mencari lagi potongan kabel yang masih tersisa untuk disambung menjadi tangan. Setelah disambung jadilah orang-orangan 'Robot Kabel ' itu...Berikut bahan dan cara pembuatan ''Robot Kabel'...


Bahan :


Bahan : Potongan kabel bekas, dikupas sebagian kulitnya


Cara Membuat :

Pertama : 'Abdan memasukkan ujung kabel kecil (hitam) ke potongan kabel  besar (putih)

Potongan kabel yang telah dilipat menghasilkan bentuk seperti ini

Kedua :  'Abdan menyambung kedua potongan kabel itu


Hingga  menghasilkan bentuk seperti ini

Ketiga : 'Abdan menggunting potongan kabel besar untuk membuat tangan robotnya

Keempat : Memasukkan isi kabel untuk mengikat

 Kelima : 'Abdan mengikat kabel putih itu 

Robot Kabel siap berpose

Prakarya ini membawa 'Abdan belajar tentang kreativitas dan peran. Otaknya berputar ketika melihat seutas kabel. Keseimbangan otak bisa didapat dengan ketrampilan-ketrampilan semacam ini. Otak kiri berkembang saat tangan-tangan mulai bergerak membuat rangkaian. Otak kanan pun demikian ketika pertama kali membayangkan bagaimana kabel bisa diubah menjadi sebuah permainan juga ketika memainkannya setelah robot sederhana itu berhasil diciptakan. Teruslah berkarya, Nak!

Dua puluh bulan

Dua puluh bulan  


     Salah satu hal penting dalam proses home education adalah mendokumentasikan setiap proses belajar anak-anak. Ini sebagai salah satu bentuk evaluasi proses belajar yang sedang berjalan. Evaluasi tertulis yang disertai dengan foto-foto kegiatan sangat diperlukan sebagai salah satu cara mengukur perkembangan belajar anak-anak. Berbeda dengan evaluasi yang ada pada proses belajar di sekolah, evaluasi berupa portofolio karya ini memiliki nilai lebih, tidak hanya mengandalkan proses evaluasi sesaat (baca: nilai rapor) hitam di atas putih saja, tapi lebih pada evaluasi tentang proses belajar yang dijalani anak. Orientasi bukan pada hasil, tetapi lebih mengandalkan setiap proses dan jerih payah yang dilakukan. Semua itu perlu dihargai. Setiap yang layak dipelajari layak pula untuk dirayakan. Ini melatih anak dan orang tua untuk senantiasa menggunakan nilai-nilai positif dalam setiap proses belajar. Dan lebih dari itu, proses evaluasi melalui catatan portofolio melahirkan energi positif yang luar biasa baik bagi orang tua maupun anak, karena setiap kejadian yang dituangkan dalam bentuk tulisan akan melahirkan kebahagiaan. 



Meski demikian faham tentang pentingnya mengabadikan setiap proses belajar anak-anakku lewat catatan portofolio, toh aku masih lemah untuk bisa menjalaninya dengan baik. Terbukti sampai saat ini, dua puluh bulan home   education berjalan, baru 2 artikel yang aku pasang di blog ini. Bukan berarti di tempat lain sudah tersimpan banyak, tidak, blog ini bisa digunakan sebagai ukuran, seberapa banyak kegiatan anak-anak yang telah kutulis. Yah…aku memang kecewa, kecewa pada diriku sendiri yang tak kunjung bisa fokus mengurusi setiap proses belajar mereka. Tapi kekecewaan hanya membuahkan keburukan. Aku berusaha merenung, mengapa ini tak kunjung bisa kutekuni padahal ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku, aku sangat senang melakukannya…O ya, ternyata ada kendala-kendala yang belum bisa aku atasi, ada kesibukan lain yang memaksaku untuk membuat rating prioritas, dan kelak fokus mengurus blog ini akan aku dapati juga. Tidak apalah…sementara begini dulu, tidak masalah. Kembali ke tujuan utama home education kami, belajar dengan menyenangkan, belajar tanpa tekanan, belajar tanpa paksaan, nikmati saja, karena aku juga sedang belajar… 


Ya, begitulah. Aku merasa grafik kebahagiaanku senantiasa menanjak sejak kami menjalani home education. Kebahagiaanku selalu bertambah karena setiap hari aku bisa mengetahui setiap perkembangan anak-anakku. Kebahagiaanku selalu bertambah karena setiap hari aku bisa belajar bersama anak-anak. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Kami bersama-sama memulai. Kami bersama-sama menjalani. Sebuah pelajaran berharga atas permasalahan keluarga yang tak kunjung usai dari kehidupan kami juga menjadi bagian dari proses belajar itu. Kondisi ekonomi yang sering menjadi masalah bahkan bisa menjadi proses belajar yang luar biasa. Bisa dibilang aku dan suami memang sedang belajar bagaimana keluarga kami bisa mencapai skor financial 
yang ideal. Bersamaan dengan itu pula kami juga berusaha membimbing anak-anak untuk memiliki skor financial yang ideal sejak sekarang. Sebagian orang mengatakan, bagaimana bisa mengajarkan kepada anak kita sesuatu yang belum bisa kita lakukan, baguskan diri dulu baru diajarkan kepada anak. Tapi kami mempunyai pandangan yang berbeda. Kami memulai bersama, sama-sama dari nol. Bisa jadi selama perjalanan itu anak-anak berjalan lebih cepat dan kami justru belajar dari mereka, tidak masalah. Justru di situlah kebahagiaan itu muncul. 

Dalam menjalani proses belajar bersama kita selalu bisa menciptakan kebahagiaan. Sedih dan kecewa, gembira dan suka cita selalu kita maknai dengan kebahagiaan. Kita tidak perlu menutup-nutupi jika memang kita tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan yang diajukan anak, kita bisa bersama-sama mencari jawabannya. Kita juga tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang serba tau hanya dengan mendahului anak belajar sebelum mengajar karena anak selalu bersama kita 24 jam. Keindahan belajar bersama itulah yang membuat kebahagiaan selalu ada. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dengan kesempatan yang telah Allah berikan untuk menjalani proses pendidikan home education. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kami untuk memberikan yang terbaik kepada putra putri kami.

Kamis, 14 Juli 2011

Fathin Pun Menyusul

Setelah 2 bulan 'Abdan menikmati hari-harinya bersama Abi, giliran si sulung merasa "iri". Dia bilang, " Enak 'Abdan... Bisa ikut Abi kemana-mana..." Lho kok begitu, jadi ia merasa kalau ikut Abi itu jauh lebih enak ketimbang sekolah...?? Wah... berarti ada yang salah ini. 


Memang sih, sejak merasakan bahwa biaya sekolah semakin meninggi dan kami mengalami kesulitan untuk membayarnya, maka kamipun mulai banyak belajar tentang homeschooling. Seringkali kami menjadikan homeschooling sebagai topik pembicaraan anatara aku dan suami. Saat itu Fathin duduk di kelas 3 SD. Rasa kurang nyaman dengan kondisi pembelajaran di sekolah memang sudah kami rasakan. Aku sebagai ibu seringkali merasa bersalah ketika harus memaksa anakku mengikuti kemauan sekolah yang aku sendiri sebenarnya tidak nyaman, sebagai contoh adalah ketika Fathin harus mengerjakan pe-er, ia paling sulit...dan tidak ada gairah, aku harus memaksa-maksa kalau tidak ingin ia pergi ke sekolah sambil membawa kembali pe-er yang belum dikerjakan. Ya dipaksa-paksa, soalnya waktuku tidak banyak (aku juga mengajar di TK yang satu yayasan dengan sekolah Fathin). Malam hari selepas isya' kami sekeluarga sudah pada ngantuk, jadi mengerjakan pe-er seringnya di pagi hari, saat sedang repot-repotnya. Kalau sedang tidak ada pe-er adalagi yang bikin ribut... tidak segera menata buku yang harus dibawa... tidak segera mandi... seragam, sepatu, dasi, suka nyelip ga tau kemana... Akhirnya, yang sering terjadi adalah Fathin datang di sekolah terlambat... Padahal rumah kami bersebelahan dengan sekolah...Wow luar biasa... Berapa kali saja aku sebagai orang tua dipanggil gara-gara Fathin telat... Wuih... ya malu lah...meski yang memanggil teman-teman sendiri, tapi saking keseringan jadi nggak nyaman... Seringkali anaknya aku ajak ngobrol, tapi tetap saja, kalau sudah ada yang dikerjakan (biasanya bermain-main atau menggambar) tidak bisa beranjak dari tempatnya. Begitupun kalau pulang, selalu akhir, entah karena tugas nulis belum kelar atau karena menemukan permainan asyik di halaman sekolah. Huuuhhh... Selalu jengkel dibuatnya. Akhirnya aku pakai jurus instan, ngancam-ngancam, kalau pagi hari, sambil panik persiapan karena jam 07.00 harus sudah siap breafing pagi di tempatku mengajar, aku teriak-teriak... " Ayo segera mandi, menata buku dan berangkat... Pokoknya kalau Ummi sudah berangkat dan selesai breafing pagi kamu belum kelihatan di sekolah, tak laporkan ke gurumu bahwa kamu sudah nggak pengen sekolah..." Kalau sudah digitukan, pasti deh dia akan teriak-teriak juga " Gak... gak mau...gak mau...," " Iya...makanya segera berangkat, nak." Kalau dia sudah panik begitu, barulah suaraku menurun... Yah, begitulah hari-hari Fathin.


Rasa bersalah selalu menggelayuti pikiranku, akankah seperti ini yang selalu terjadi, sepertinya Fathin memang terpaksa untuk berangkat sekolah. Galau akau dibuatnya, belum lagi kalau ada laporan dari gurunya, " Mas Fathin kalau waktunya menulis selalu ramai, mengganggu teman-temannya..." atau " Mas Fathin menulisnya lama...karena sambil ngobrol dan menggambar..." Begitulah... Laporan buruk selalu kuterima tentang anakku.... 


Sejak saat itu aku semakin banyak mempelajari tentang homeschooling. Kecenderungan terhadap model pendidikan yang telah lama kami pendam itu kini semakin menwarnai pola pikir. Aku seringkali flash back ke masa lalu, dimana aku selalu merasa terbebani atas apa yang menjadi kewajibanku sebagai seorang pelajar. Belajar banyak hal berarti harus bisa banyak hal... kalau diajarkan berarti harus bisa apa yang diajarkan, karena nilai jekel adalah aib. Aku sempat sangat terbebani kalau tidak bisa tuntas menguasai semua mata pelajaran. Meski selama sekolah prestasi akademikku lumayan bagus tapi beban-beban yang kurasakan juga cukup berat. Itu kurasakan sangat menyiksa, dan lebih kecewa lagi ketika akhirnya kudapati hari ini diriku seperti harus memulai dari nol untuk mempelajari segala hal yang kubutuhkan. Prestasi akademik di masa lalu tidak pernah bisa membantu. Rumus fisika yang dulu kuhafal sekarang sudah tidak kubutuhkan, rumus kimia, hafalan geografi dan yang lainnya harus kuhafal ulang kalau aku mau mendalaminya. Apalagi aku tidak kuliah, hampir tidak ada yang berguna apa-apa yang aku pelajari saat aku masih sekolah... Jadi apa gunanya menghabiskan waktu sekian lama, menghabiskan uang sekian juta, kalau akhirnya tidak mendapatkan apa-apa? Padahal dulu aku berprestasi...Lalu bagaimana dengan anakku...yang tidak pernah mendapatkan penghargaan berupa prestasi sebagai satu-satunya penghargaan tertinggi di sebuah institusi bernama sekolah itu...? Apa yang akan didapatkan anakku disana? Apa yang akan dibawanya sebagai bekal kehidupannya di masa mendatang? Ohhh... 


Semua ketidaknyamanan itu berkecamuk, menghasilkan sebuah kekuatan untuk segera  menarik anakku dari bangku sekolah. Awalnya kami menggunakan alasan dana. Kanyataannya kami memang keberatan dengan biaya yang harus kami keluarkan dengan jumlah anak yang lumayan banyak. Sebenarnya kami bisa saja meyakinkan diri untuk masalah ini, jika kita meniatkan semuanya demi kebaikan,  dana pasti bisa dicari, Allah pasti akan memberikan jalan, tidak ada yang tidak mungkin. Tetapi sayangnya kami telah merasa sayng (eman:jawa) untuk sekian banyak dana yang harus dikeluarkan. Padahal dengan dana yang lebih sedikit kita bisa mengantarkan anak-anak menuju masa depan yang lebih terarah. Dana yang ada bisa dialokasikan kepada hal-hal yang penting untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Bukan dialokasikan kepada hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan.


Ya begitulah. Semester 2 kelas 3 SD Fathin resmi mundur dari sekolah. Ada beberapa tawaran beasiswa setelah Fathin keluar, dengan tujuan agar Fathin bisa kembali ke sekolah. Tapi ternyata setelah kami evaluasi tujuan utama menarik Fathin dari sekolah memang bukan semata-mata karena dana. Masalah dana ada, tetapi tidak sekuat permasalahan lain yang melatarbelakanginya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para donatur yang siap membiayai anak-anak untuk bisa kembali ke sekolah. Terimakasih banyak atas kepeduliannya, bukan maksud kami merendahkan maksud baik saudara-sudaraku... Ini hanyalah upaya kami untuk memberikan bekal yang terbaik kepada anak-anak kami, menurut kami, orang tuanya, yang bertanggung jawab atas mereka. Terimakasih kepada saudara-saudara kami yang telah mendukung keputusan ini... semoga Allah SWT senantiasa menuntun langkah-langkah kita menempuh ikhtiyar-ikhtiyar yang diridhoi-NYA, amin.