Seorang
ibu bertanya tentang anaknya. Sejak kecil selalu memperoleh ranking
bagus di kelasnya. Prestasi akademik selalu cemerlang. Tetapi belakangan
minat belajarnya merosot drastis. Tak ada gairah belajar. Tak ada minat
untuk mengerjakan PR. Ketika ibunya mengingatkan untuk belajar lebih
giat agar rankingnya tidak jeblok, ia berkata, “Aku bosan sama ranking.”
Pertanyaan ibu ini mengingatkan saya pada teori motivasi. Ada
motivasi ekstrinsik, ada motivasi intrinsik. Anak kita menyapu lantai
agar mendapat sebiji permen dari orangtua, tekun belajar agar dapat
ranking satu (karena nanti kita belikan ia sebuah sepeda mungil), atau
bersemangat memberesi kamar agar diajak jalan-jalan, adalah contoh
motivasi ekstrinsik. Anak melakukan aktivitas apa pun, termasuk shalat
dan mengaji, karena ingin mendapatkan hadiah yang dijanjikan kepadanya
merupakan bentuk motivasi ekstrinsik. Kita rajin puasa Senin-Kamis
karena ingin lulus ujian, bukan karena berserah diri kepada Allah Yang
Maha Tinggi.
Motivasi ekstrinsik cepat pudar. Anak mudah kehilangan semangat
karena hadiah yang dijanjikan –termasuk hadiah berupa “ranking”—tidak
lagi memiliki daya tarik. Semangatnya melemah (less zeal) karena imbalan yang diberikan meaningless
(kehilangan makna), sehingga tak ada lagi alasan untuk mengejar.
Seperti anak ibu tadi, mereka bisa bosan dapat ranking yang bagus.
Kapan anak merasa bosan? Ketika anak merasa hadiah itu tak memberi
manfaat apa-apa. Anak-anak tidak membutuhkan. Kalau dulu anak
bersemangat menyapu untuk memperoleh permen, sekarang permen sudah tidak
menarik lagi. Anak butuh rangsangan lebih besar untuk bertindak.
Cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi sekurangnya oleh dua hal. Pertama,
nilai imbalan atau hadiah yang dijanjikan kepada anak. Setiap hadiah
akan mengalami penyusutan nilai bagi anak. Saat anak belum pernah
memegang, sebuah mobil mainan sangat menggiurkan bagi anak. Tetapi
ketika berbagai jenis mainan sudah sering ia pegang, mobil-mobilan yang
bagus lengkap dengan remote controlnya pun sudah tidak menarik lagi.
Melemahnya daya tarik imbalan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya
aktivitas yang memberi daya tarik lebih besar. Video-game, misalnya.
Semakin kuat keasyikan yang diperoleh anak saat bermain play-station,
semakin lemah daya tarik imbalan yang kita janjikan agar anak mau
belajar yang rajin. Lebih-lebih jika aktivitas lain yang mengasyikkan
itu pada saat yang sama juga menyerap seluruh energi psikis anak
sekaligus membuat anak pasif. Berbagai jenis game –juga tayangan
TV—membuat anak terpaku secara pasif. Mereka dibombardir dengan
gambar-gambar kekerasan yang berganti dengan kecepatan sangat tinggi,
sehingga memaksa mereka untuk terus memperhatikan tanpa berkedip.
Aktivitas semacam ini membuat anak mengalami kelelahan secara psikis.
Ibarat truk, bebannya berlebih. Ibarat komputer, sistemnya hang.
Macet. Meskipun kemampuannya sangat besar dan kecepatan prosesor sangat
tinggi, tetapi tidak mampu mengerjakan tugas dengan baik. Anak-anak
yang sedang hang, tidak mampu memusatkan perhatian saat belajar
dan sulit mencerna buku yang ia baca. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang
permainan yang ia pelototi di video-game. Dalam bahasa komputer, anak
ini mengalami registry error. Badannya ada di kelas, telinganya mendengar suara guru, tetapi pikirannya ada di play-station.
Ketika anak mengalami hang, ia kehilangan rasa ingin tahu.
Kreativitasnya tumpul. Ia tidak betah berpikir, mencari tahu dan
menekuni kegiatan yang menuntutnya berpikir aktif. Ia kehilangan gagasan
dan kecemerlangan berpikir, kecuali pikiran untuk kembali menyibukkan
diri dengan video-game atau tayangan TV. Pada tingkat yang parah, anak
mengalami kecanduan.
Anak yang terlalu banyak memelototi video-game sampai pada tingkat
yang sangat menguras energi psikis, cenderung sangat pasif atau justru
sebaliknya amat agresif. Mereka bisa seperi orang linglung. Tak tahu apa
yang harus dilakukan. Bisa juga sangat ganas. Mereka berperilaku sangat
agresif karena pengaruh adegan yang disaksikan. Bukan karena dorongan
kecerdasan.
Bisa juga terjadi anak pasif sekaligus impulsif. Secara sosial,
mereka terputus dari lingkungan. Pada anak-anak yang tingkat
kecanduannya sudah sangat akut, boleh dikata mereka tidak mempunyai
kontak dengan orang lain, termasuk orangtua. Interaksinya cuma dengan
benda bernama TV, play-station atau layar komputer yang
menyajikan game. Mereka tidak betah berinteraksi dengan orang lain. Di
saat yang sama, adegan kekerasan yang bertubi-tubi –khususnya dalam
video-game—memberi efek desensitisasi. Perasaan mereka tumpul. Hati
mereka keras.
Berapa jam waktu menonton yang sehat bagi anak? Sekitar 8 sampai 10
jam seminggu. Itu pun dengan catatan tayangannya masih cukup sehat. Jika
tayangannya benar-benar sangat edukatif dan merangsang daya nalar anak,
mereka bisa menonton maksimal 15 jam seminggu. Lebih dari itu sudah
tidak sehat. Apalagi kalau acaranya banyak menayangkan kekerasan, jam
menonton harus dipersingkat. Dalam The Smart Parent’s Guide to KIDS’ TV, Milton Chen menunjukkan bahwa
durasi 4 jam sehari (28 jam seminggu) sudah termasuk kategori yang
sangat menakutkan. Benar-benar membahayakan mental dan kepribadian anak.
Apalagi kalau tayangan itu berupa video-game yang dari detik ke detik
hanya menyajikan kekerasan, keganasan dan cuma memancing reaksi impulsif
anak.
Alhasil, tak ada yang perlu kita salahkan kecuali diri sendiri kalau
anak-anak kita kehilangan motivasi belajar, sementara setiap hari mereka
memelototi TV enam jam sehari! Agaknya, ada benarnya ketika Fred Rogers
berkata, “Barangkali televisi adalah satu-satunya peralatan elektronik yang lebih bermanfaat justru setelah dimatikan.”
Kedua, cepat lambatnya anak merasa bosan dipengaruhi oleh
tekanan yang mereka terima. Anak yang sering dibebani untuk mendapatkan
ranking, cenderung cepat kehilangan minat. Ia belajar di bawah tekanan
karena tidak ingin orangtuanya cemberut. Selebihnya, tak ada alasan yang
menggerakkan jiwa untuk tekun membaca.
Motivasi ekstrinsik terbagi menjadi dua, yakni jangka pendek dan
jangka panjang. Jangka pendek misalnya permen yang kita berikan begitu
anak menyapu, jangka panjang misalnya iming-iming pada anak kelas 4 SD
kalau lulus UASBN dengan nilai tinggi akan dibelikan laptop baru.
Semakin pendek dan nyata iming-iming yang kita berikan, semakin cepat
kelihatan reaksinya, sekaligus semakin mudah hilang kekuatannya.
Anak-anak yang digerakkan oleh motivasi ekstrinsik jangka pendek,
ibaratnya sama dengan mobil mewah tanpa bensin. Kalau lagi didorong,
jalan. Tapi kalau tak ada yang mendorong, mogok. Mobil tak bisa berjalan
lagi.
Anak-anak yang memiliki motivasi intrinsik, sebaliknya, merasa asyik
dengan apa yang dikerjakan, menemukan kegembiraan saat menghadapi
tantangan, bahagia ketika mengerjakan tugas-tugas sehingga ia terlibat
penuh secara emosional. Mereka berpartisipasi melakukan kegiatan karena
menemukan kegembiraan, kebahagiaan, keasyikan atau makna dari apa yang
dilakukannya. Bukan demi memperoleh hadiah. Dalam tindakan itu sendiri,
ada yang ia dapatkan sebagaimana pendaki gunung memperoleh kepuasan.
Kebahagiaannya terletak pada kemampuannya mengatasi rintangan. Bukan
pada decak kagum orang yang memandang.
Dalam bukunya berjudul Adolescence (2001), John W. Santrock menulis bahwa motivasi intrinsik sangat mempengaruhi kreativitas dan rasa ingin tahu anak (natural curiosity).
Anak-anak yang motivasi intrinsiknya kuat cenderung lebih kreatif, kaya
gagasan, senantiasa menemukan ide-ide segar –pada tahap awal adalah
ide-ide permainan—serta ketertarikan yang kuat dalam melakukan berbagai
aktivitas. Mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, minat yang
luas dan cenderung memiliki semangat belajar mandiri yang kuat.
Anak-anak yang memiliki motivasi intrinsik, betah membaca berjam-jam
meskipun tidak ditunggui orangtua. Mereka merasa membaca sebagai
kebutuhan. Bukan tuntutan orangtua dan sekolah.
Adakalanya anak memiliki motivasi intrinsik untuk suatu bidang,
tetapi tidak untuk bidang yang lain. Adakalanya anak memiliki motivasi
intrinsik untuk hampir semua bidang. Kapan saja, dimana saja dan
mengerjakan apa saja, ia bersemangat. Bersungguh-sungguh ia belajar,
meskipun tidak begitu menguasai.
Kuatnya motivasi intrinsik mampu membuat seseorang berani menghadapi
kesulitan. Kisah tentang Imam Bukhari adalah kisah tentang manusia yang
memiliki motivasi intrinsik luar biasa. Ia menempuh perjalanan
beratus-ratus kilo, memenuhi kakinya dengan kepenatan, dan membiarkan
tubuhnya disengat oleh panasnya matahari demi mendapatkan sebuah hadis.
Kalau ia menginginkan harta dari penguasa, tak perlu ia menghabiskan
waktu hanya untuk mendapatkan sebuah hadis yang belum tentu ia ambil
(karena hadis itu ternyata dha’if, misalnya). Tetapi ada
kekuatan jiwa yang menggerakkannya. Ada kecintaan pada agama yang
membuatnya tak pernah berhenti mencari ilmu.
Kalau motivasi intrinsiknya sudah kuat, tanpa fasilitas yang memadai
pun mereka bisa tumbuh menjadi manusia cerdas luar biasa. Nama-nama
besar seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad ibn Hanbal atau –apalagi—Abu
Hurairah, bukanlah orang yang memiliki cukup sarana untuk belajar.
Tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan jiwa
menakjubkan. Dahsyatnya motivasi mereka untuk menolong agama membuat
daya ingat mereka sangat hebat dan pikiran mereka amat jernih.
Kisah para penemu juga merupakan kisah tentang motivasi intrinsik
yang kuat. Bukan kisah tentang banyaknya fasilitas yang mereka miliki.
Orang-orang super kreatif bukanlah mereka yang memperoleh latihan gerak
dengan iringan musik yang –kadang tanpa disadari guru—sensual. Pernah,
saya merasa amat sedih ketika menghadiri acara tutup tahun sebuah
lembaga pendidikan. Atas nama kreativitas, anak-anak disuruh
lenggak-lenggok memutar badan รก la peragawati, diiringi dengan
alunan musik menggoda. Seorang guru berdiri di samping, di seberang
panggung, untuk mengawasi sekaligus mengarahkan dengan gerak mulut dan
mata.
Mereka lupa –atau tidak tahu—bahwa ketika seorang anak menggerakkan
dadanya, lalu memperoleh tepuk tangan meriah, yang menari-nari di
benaknya bukanlah “isyhadu bi anna muslimun”, melainkan sensualitas. Bukan kreativitas.
Bismillah...
Ya Rabb...tunjukkanlah segera pada kami cahaya-Mu... aamiin